Kompas.com - 13/06/2021, 10:36 WIB

"Satu kanvas dilukis dua hingga tiga anak, ada kebersamaan dan ikatan batin yang dibangun disitu. Ini penting di masa-masa seperti ini," jelasnya.

Salah satu peserta melukis, Rifki (10) mengatakan sangat senang mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, sudah lama dirinya tidak bisa mengikuti kegiatan dan lomba-lomba melukis yang biasanya digelar oleh berbagai institusi karena pandemi.

Karenanya, workshop ini menjadi kesempatan baginya menimba ilmu kepada seniman-seniman yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

"Seneng sekali karena bisa menggambar bareng teman-teman. Sudah lama sekali Iki (panggilannya) tidak bisa ikutan melukis karena Covid. Nah, tadi saya gambar pemandangan alam dengan di bantu para tutor. Jadi dapat pengalaman baru juga," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Bandung yang hadir dalam kegiatan itu turut memberikan sambutan positif. Dia berharap kegiatan semacam ini mampu membangkitkan ide-ide kreatif sehingga berdampak pada perekonomian warga sekitar.

"Karya seni termasuk dalam industri kreatif yang mampu menggerakkan ekonomi bangsa. Tidak boleh patah arang menghadapi kondisi saat ini. Karenanya kegiatan ini saya kira ini adalah terobosan dan membangun optimisme juga kebersamaan," kata Ketua Forum RW Kota Bandung, Benny Wijaya.

Baca juga: Virtual Open House LaSalle College: Masa Pandemi Jadi Pembuktian Kreativitas

Tentang Tisna Sanjaya

Tisna Sanjaya selain sebagai dosen, juga Ketua Kelompok Keahlian Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Dirinya mendapatkan Anugerah Kebudayaan Indonesia tahun 2020 pada kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaharu dari Kemendikbud.

Anugerah ini merupakan salah satu bentuk apresiasi pemerintah terhadap orang-orang/pihak yang berkontribusi di dunia seni dengan kategori pelestari; pencipta, pelopor dan pembaharu; anak dan remaja; maestro seni tradisi; komunitas; dan pemerintah daerah.

Tisna memperoleh penghargaan tersebut atas perkembangan proyek seni mengenai seni lingkungan. Sejak tahun 2007, Tisna berfokus pada proyek keseniannya yang berjudul Pusat Kebudayaan Cigondewah atau Imah Budaya Cigondewah.

Imah Budaya Cigondewah merupakan galeri seni yang juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui karya seni di Cigondewah Kaler, Kota Bandung.

Proyek ini merupakan salah satu bagian dari penelitian disertasi yang dilakukan oleh Tisna semasa menempuh pendidikan S3 di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Hingga saat ini, Imah Budaya Cigondewah menjadi ikon tersendiri bagi masyarakat lokal dengan menyediakan beberapa kegiatan pemberdayaan sosial dengan visi misi menciptakan rasa cinta pada alam dengan spirit revitalissi tradisi lama yang berkolaborasi dengan kreasi semangat zaman kontemporer.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.