Kompas.com - 14/06/2021, 16:14 WIB
Ilustrasi Buku Panduan Program Dana Padanan Kampus Vokasi (Matching Fund Vokasi) Tahun 2021 DOK. Humas Kemendikbud RistekIlustrasi Buku Panduan Program Dana Padanan Kampus Vokasi (Matching Fund Vokasi) Tahun 2021

KOMPAS.com – Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Nugroho mengatakan, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi pengusul untuk mengikuti "Matching Fund Vokasi 2021" dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

“Pengusul harus merupakan dosen dengan homebase program studi vokasi sesuai data yang ada pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) di bawah binaan Kemendikbud Ristek,” jelasnya dalam agenda Sosialisasi Matching Fund Vokasi 2021 yang disiarkan melalui kanal YouTube Dikti Vokasi Kemendikbud, Kamis (3/6/2021).

Selanjutnya, usulan dapat melibatkan dosen dan/atau mahasiswa sebagai anggota yang berasal dari program studi vokasi dan peneliti lain dari dunia kerja yang diperoleh melalui platform kedaireka (www.kedaireka.id).

“Dosen yang mengusulkan harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK), punya rekam jejak sesuai produk purwarupa atau teknologi yang diusulkan, terdaftar di Kedaireka, dan tidak sedang melanjutkan studi akademik,” paparnya.

Baca juga: Kemendikbud Ristek Buka Matching Fund Vokasi, Berapa Besaran Dana yang Diterima Pengusul?

Ia melanjutkan, untuk bisa berpartisipasi, perguruan tinggi vokasi (PTV) atau dosen pengusul utama harus sudah memperoleh penyediaan dana padanan dari dunia kerja. Dunia kerja yang dimaksud pun harus sudah terdaftar di Kedaireka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain persyaratan umum, dalam Panduan Program Dana Padanan Kampus Vokasi (Matching Fund Vokasi) Tahun 2021 Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi (PTVP), disebutkan pula persyaratan khusus yang harus dipenuhi pengusul.

Persyaratan khusus tersebut berkaitan dengan proses produksi produk yang diusulkan oleh pengusul.

Pertama, yakni lingkup program Pengembangan Pusat Unggulan Teknologi (UPT) wajib memiliki teaching factory tingkat kesiapan teknologi (TKT) minimal level enam.

Kemudian, lingkup program hilirisasi produk wajib memiliki barang atau jasa berupa purwarupa dengan TKT minimal level delapan.

Baca juga: Perkuat Kolaborasi PTV dengan Dunia Kerja, Kemendikbud Ristek Luncurkan Matching Fund Vokasi

“Sedangkan untuk startup company, itu nanti purwarupanya TKT-nya sudah finish level sembilan dan memiliki market readiness level (MRL) serendah-rendahnya adalah lima. Itu sebagai syarat khususnya,” jelas Agus.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.