Kompas.com - 16/07/2021, 21:40 WIB
Kegiatan belajar dan mengajar antara siswa dan guru Sekolah Murid Merdeka. DOK. SEKOLAH MURID MERDEKAKegiatan belajar dan mengajar antara siswa dan guru Sekolah Murid Merdeka.

KOMPAS.com - Sudah hampir satu setengah tahun pendidikan Indonesia menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai dampak pandemi Covid-19. Dunia pendidikan "dipaksa" beradaptasi dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

Dalam perjalanannya, bauran pembelajaran atau blended learning antara pembelajaran daring dan luring muncul sebagai alternatif pembelajaran. Namun, masih banyak salah kaprah yang menganggap blended learning hanya sebatas belajar secara daring saja.

Kepala Sekolah Murid Merdeka (SMM), Laksmi Mayesti mengatakan, hal yang perlu diingat dari sistem blended learning yaitu bukan berarti para siswa hanya belajar secara dalam jaringan (daring) atau online saja.

Laksmi melanjutkan, sistem blended learning bahkan telah dianut SMM sejak sebelum pandemi menghantam Indonesia dengan menggabungkan pembelajaran daring dan tatap muka langsung.

Hingga saat ini, kata Laksmi, murid-murid SMM tersebar mulai dari Aceh hingga Papua.

Bahkan agar akses untuk masyarakat semakin luas, pada tahun ajar 2021 SMM akan menginisiasi pembukaan lokasi pembelajaran luar jaringan (offline) di delapan kota yaitu Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Depok, Bogor, Bekasi, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di masa pandemi ini banyak yang menawarkan pembelajaran dengan menggunakan teknologi sebagai media ajar, tetapi tidak banyak yang mengintegrasikan antara teknologi dengan pedagogi atau metode ajar yang baik," kata Laksmi melalui rilisn resmi, Jumat (16/7/2021).

Baca juga: Blended Learning: dari Guru Keliling, Literasi hingga Karakter Siswa

Kreativitas dan fleksibilitas

Laksmi melanjutkan, setiap pengajar di SMM didorong untuk selalu mengembangkan kreativitasnya agar siswa dapat berinteraksi secara terbuka baik kepada guru maupun teman-temannya.

Menurut Laksmi, interaksi terbuka tersebut akan menjadi nilai positif juga bagi orangtua.

"Orangtua bisa mengetahui perkembangan anaknya dengan terlibat secara langsung tanpa harus merasa terbebani, karena (selama ini) seolah-olah sistem pembelajaran daring cenderung hanya memberatkan orangtua dan anak-anak," ujar Laksmi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.