Kompas.com - 03/08/2021, 16:46 WIB
Ilustrasi peternakan ayam pedaging. SHUTTERSTOCK/HENADZI PECHANIlustrasi peternakan ayam pedaging.

KOMPAS.com - Kebutuhan masyarakat terhadap pemenuhan gizi berupa protein hewani membuat sektor peternakan mampu bertahan selama pandemi Covid-19. Hal ini diulas dalam webinar “Billenialic: Bisnis Inovatif Era Milenial di Kala Pandemic” yang digelar IPB University.

Dekan Fakultas Peternakan IPB University, Idat Galih Permana mengatakan peternakan menjadi salah satu sektor menjanjikan yang dapat ditekuni. Bahkan, 14,23 persen lulusan Fakultas Peternakan IPB University menekuni bisnis peternakan.

"Hal ini menunjukkan bahwa memang minat mahasiswa dan alumni untuk terjun ke bisnis peternakan itu tinggi, ini merupakan satu nilai tambah untuk kita,” ujar Idat yang juga merupakan dosen IPB University dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, seperti dirangkum dari laman IPB, Selasa (3/8/2021).

Baca juga: 5 Cara Usir Tikus di Rumah dari Pakar Tikus IPB

Ia juga memaparkan bahwa lulusan Fakultas Peternakan IPB University termasuk yang paling banyak memiliki bisnis di bidang wirausaha.

“Minat mahasiswa dan alumni IPB University terhadap bidang peternakan memang tinggi. Berdasarkan tracer study yang telah dilakukan, ternyata lulusan Fakultas Peternakan IPB University itu termasuk yang paling banyak memiliki bisnis di bidang wirausaha," ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu CEO AS Putra Group sekaligus Bendahara Pusat Hanter IPB University, Aif Arifin Sidhik berbagi kisah bagaimana dirinya memulai bisnis peternakan.

Perusahaan yang Aif bangun setiap harinya memiliki kapasitas produksi sekitar 400 ton ayam hidup dan 100 ton telur.

Ia menjelaskan, proses dalam menekuni bisnis peternakan dimulai dari perjuangan orangtua sebagai wirausaha yang juga menggeluti bisnis properti, bisnis transportasi, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), hingga dealer motor.

 

“Meskipun kami sudah mengembangkan sana-sini, namun tetap bisnis unggas ayam menjadi core bisnis kami, yang lainnya hanya sebatas pelengkap kami saja,” terangnya.

Baca juga: 5 Negara dengan Populasi Terbanyak di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

Lebih lanjut, alumnus IPB University ini menerangkan, internet saat ini mendemokratisasi ekonomi. Dengan adanya internet, pebisnis memiliki kesempatan yang relatif sama dalam berbisnis, baik mereka dari desa maupun kota.

"Adapun bisnis di era pandemi ini kita hanya perlu untuk melihat problematika yang ada di sekitar, karena rata-rata peluang-peluang bisnis itu muncul dari kendala sehari-hari. Kita harus menjadi bagian dari solusi ketimbang kita terus-menerus complain dan tidak melakukan apa-apa,” ujar Aif

Meski selama masa pandemi Aif harus menutup beberapa cabang perusahaannya, namun kondisi ini membuat Aif mempelajari banyak hal. Salah satunya ialah bisnis pangan yang bertumbuh sangt cepat karena setiap orang membutuhkan makan.

“Hikmah yang dapat diambil dari kisah saya adalah pentingnya cashing terutama pada masa krisis, manajemen dalam pengelolaan finansial perusahaan. Pandemi ini juga mengajarkan kita agar siap dengan perubahan apapun. Bisnis pangan ini adalah bisnis yang reborn-nya sangat cepat dibandingkan dengan bisnis-bisnis yang lain, karena orang tetap membutuhkan makan,” tutupnya.

Baca juga: Peneliti IPB: Jahe, Kunyit, dan Temulawak Bisa Obati 30 Jenis Penyakit



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.