Kompas.com - 18/08/2021, 19:07 WIB
Ilustrasi jamur tiram di atas kain. SHUTTERSTOCK/KRISTANTIIlustrasi jamur tiram di atas kain.

KOMPAS.com - Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur komodi pertanian yang cukup digemari masyarakat. Selain mudah diolah, jamur tiram mempunyai kandungan nutrisi tinggi, antioksidan, dan zat yang dapat menurunkan kolesterol.

Jamur ini dapat diolah menjadi sayur, sate, sambal bertema jamur bahkan jamur crispy yang kerap menjadi pilihan bisnis kuliner. Mengingat jamur ini mudah didapat.

Namun, budidaya jamur tiram bukan tanpa tantangan. Seperti yang dihadapi UKM Jamur Suka Suka, salah satu usaha yang bergerak khusus dalam bidang budidaya jamur tiram yang memproduksi jamur tiram segar, nugget jamur tiram dan olahan frozen food jamur tiram.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Minuman Penurun Gula Darah Berbasis Rempah

Produksi jamur tiram di tempat ini belum optimal karena dihadapkan pada kendala penyiraman yang masih konvensional yaitu membutuhkan 3-4 orang serta waktu yang tidak sedikit.

Hal ini menyebabkan suhu dan kelembaban ruang tumbuh jamur berfluktuasi serta debit air yang diterima pada setiap baglog berbeda sehingga menyebabkan jamur tumbuh tidak baik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berkomitmen untuk mendukung produksi jamur tiram secara bekelanjutan baik secara kualitas dan kuantitas, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik berkolaborasi dalam merancang dan menerapkan teknologi otomatisasi penyiraman jamur tiram bernama Penyiraman Jamur Tiram secara Otomatis atau Petajatis.

Kelima mahasiswa penggagas Petajatis ialah Vanda Inayah Oktavia Mayang, Irmadinza Citrasanty Putri, Wulan Permatasari, Akmal Berlian Rinaldi, dan Azzam Rasyiq El-Faraby.

Teknologi otomatisasi pengendali sprayer berbasis Internet of Things ini memanfaatkan ESP8266 sebagai komponen IoT yang dihubungkan dengan sensor suhu dan kelembapan sehingga pompa air dan compact room heater bekerja secara otomatis.

Teknologi ini juga dilengkapi dengan ESP32 CAM untuk dapat memantau perkembangan jamur tiram yang dapat diakses melalui aplikasi PETAJATIS pada Smartphone.

Baca juga: Peneliti IPB: Tanaman Herbal Ini Berkhasiat Redakan Asam Urat

“Kami menggunakan Internet of Things dengan harapan petani mampu mengontrol kondisi proses produksi jamur dari jarak jauh,” terang Vanda mewakili tim, seperti dirangkum dari laman UB, Rabu (18/8/2021).

Ide ini telah mendapatkan bantuan dana dari Kemendikbudristek dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2021 bidang Penerapan Iptek dan akan mengikuti seleksi PIMNAS XXXIV.

Dosen pembimbing proyek Petajatis, Budi Waluyo mengatakan saat ini telah diujikan di UKM Jamur Suka Suka Gondanglegi Kabupaten Malang.

“Ketika diujikan hasilnya bagus. UKM Puas dan berharap bisa diproduksi massal dan bisa membantu petani jamur,” kata Budi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.