Kompas.com - 27/08/2021, 19:30 WIB
ilustrasi anak belajar shutterstockilustrasi anak belajar

KOMPAS.com - Merancang program pembelajaran yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi dan membantu anak berkebutuhan khusus menghadapi tantangan dalam proses tumbuh kembangnya.

Menurut Psikolog Klinis di Sekolah Cikal, Hilda Rosa Ainiyah penting sekali bagi orangtua melakukan refleksi apabila sudah melihat gejala atau tanda gangguan atau keterlambatan dalam fase tumbuh kembang anak sehingga segala potensi tetap dapat dikembangkan, ditingkatkan serta dioptimalkan.

"Penting sekali untuk memperhatikan apakah anak mengalami keterlambatan atau gangguan. Apa bedanya? Keterlambatan itu dapat diartikan anak dapat mencapai tahap perkembangan tertentu, namun, lebih lambat dari usia seharusnya. Sedangkan gangguan berarti anak mengalami keterbatasan mencapai satu tahap perkembangan," ucapnya dalam sesi Cikal Bincang-Bincang Pengaruh Kemampuan Gerak dan Bahasa untuk Kesiapan Sekolah.

Baca juga: Cara Bangun Motivasi Belajar Anak Berkebutuhan Khusus Selama PJJ

Selanjutnya, orangtua juga perlu memilih sekolah dengan desain pembelajaran tepat bagi anak berkebutuhan khusus.

Sebagai sekolah Inklusi, Sekolah Cikal dan PAUD Rumah Main Cikal menerapkan 4 tahapan asesmen untuk mendesain program belajar anak berkebutuhan khusus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hilda menyatakan bahwa di Cikal, hasil pemeriksaan psikologis atau dokter, observasi, tes penempatan fase dan metode belajar, serta wawancara dengan pihak murid dan orang tua murid untuk memetakan desain pembelajaran yang tepat.

"Pertama,kami dari tim program memperoleh hasil pemeriksaan psikologis dan mempelajari hasil laporan psikotes anak. Tentunya, berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis ini resmi dari Dokter Anak, atau Psikolog. Kedua, kami melakukan observasi atau pengamatan pada murid saat pembelajaran. Ketiga, kami melakukan tes penempatan (placement test) mencakup tahapan pembelajaran, dan metode pembelajaran dan kelompok melalui proyek sederhana. Serta, di tahap terakhir ada wawancara dengan orang tua dan murid untuk menggali lebih dalam informasi tentang potensi dan kebutuhan belajar anak,” ucap Hilda.

Baca juga: Belajar Coding Gratis dari DQLab UMN untuk Siswa-Mahasiswa, Yuk Daftar

Untuk cakupan yang diperoleh dari hasil asesmen tersebut, lanjut dia, terdiri atas program belajar yang sesuai bagi anak, fase tahapan pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran, hingga dimensi yang dituju dalam diri anak.

“Kunci memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus itu adalah pemetaan desain pembelajaran dan memastikan kurikulum yang ada di sekolah tepat. Semakin personalisasi, maka semakin spesifik kebutuhan anak dan kemampuan anak diasah dan dipenuhi,” tutupnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.