Kompas.com - 03/09/2021, 14:00 WIB
Ilustrasi monosodium glutamat (MSG) atau micin. SHUTTERSTOCK/SURIYA YAPINIlustrasi monosodium glutamat (MSG) atau micin.

KOMPAS.com - Sebagian masyarakat kini masih menggunakan micin atau MSG sebagai penyedap rasa sintesis penambah rasa dalam masakan. Begitu pula dengan masyarakat pesisir Kelurahan Trajeng, mayoritas masih masih mengonsumsi makanan dengan vetsin.

Peduli akan kesehatan masyarakat, tim mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas Airlangga membuat penyedap rasa alami berbahan ikan lemuru dan rumput laut.

Berdasar studi awal yang dilakukan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), masyarakat Trajeng sebenarnya telah mengerti efek keseringan mengonsumsi makanan dengan micin seperti asma, sakit kepala, obesitas, hipertensi, kerusakan sel, kerusakan ginjal, dan depresi. Namun, belum adanya pengganti micin, membuat masyarakat masih terus menggunakannya.

Baca juga: Peneliti IPB: Tanaman Herbal Ini Berkhasiat Redakan Asam Urat

Meski begitu, masyarakat menunjukkan keinginan kuat untuk beralih penyedap rasa sintetik ke alami.

Ketua Tim PKM-PM Lailatus Sa’diya mengatakan pembuatan penyedap rasa alami itu mampu mengurangi risiko penyakit dan gangguan kesehatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Potensi Ikan Lemuru

Dijelaskan, ikan lemuru mengandung asam glutamat, yaitu penyedap rasa sebanyak 1,268 persen, protein, lemak, kalsium, dan zat besi.

Tim mengusulkan untuk mengombinasikannya dengan rumput laut Sargassum sp. sebagai bahan pembuatan penyedap rasa alami.

Sargassum mengandung asam glutamat yang lebih tinggi dari ikan lemuru, yakni 22-24 persen sehingga dapat memunculkan rasa sedap dan gurih (umami) pada pengganti micin yang akan dibuat.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Minuman Penurun Gula Darah Berbasis Rempah

“Serta memiliki kandungan protein sebesar 13-17 persen, dan antioksidan 5-15 persen,” tambahnya

Ke depannya, inovasi tersebut diharapkan bisa memanfaatkan ikan balo alias ikan lemuru agar bernilai ekonomi. Pasalnya, Kelurahan Trajeng berdekatan dengan pesisir dan pelabuhan. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai nelayan dengan berbagai macam ikan hasil tangkapan. Salah satunya adalah Ikan lemuru (sardinella lemuru) atau ikan Balo.

“Dalam satu tahun, jumlah dan proporsi perikanan tangkap di laut dapat mencapai 1.785,6 ton didominasi ikan Lemuru sebanyak 76,7 ton, dan tangkapan ikan laut lainnya,” papar Ella seperti dikutip dari laman Unair News, Jumat (3/9/2021).

Tim unair sendri terdiri dari Wahyu Isroni selaku dosen yang mendampingi empat mahasiswa, mereka adalah Isnaini Dwi Yuliani (Akuakultur 2020), Siti Aisyah Cahya Panglipuringtyas (Akuakultur 2018), Tika Patmawati (Akuakultur 2020), dan Rio Marcelino (Akuakultur 2020).

Baca juga: Pelatihan Bahasa Korea Gratis Korea Foundation 2022, Tunjangan Rp 12,6 Juta Per Bulan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.