Kompas.com - 13/09/2021, 18:50 WIB
Penyanyi dangdut Saipul Jamil usai bebas dari penjara Lapas Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur, Kamis, (2/9/2021). KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISIPenyanyi dangdut Saipul Jamil usai bebas dari penjara Lapas Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur, Kamis, (2/9/2021).
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Martha Adiputra menilai kondisi penyiaran Indonesia terutama televisi swasta setelah tahun 1990 terus mengalami penurunan.

Meski sempat berjaya bersama Korea Selatan saat memulai membangun industri penyiaran di tahun 1990-an dengan tayangan-tayangan bagus, kualitas penyiaran Indonesia justru mengalami penurunan.

"Awal tahun 1990-an sama dengan kita menjadi saat titik tumbuh. Industri televisi di Korea Selatan terus bisa mendorong budaya popular Korea yang bagus hingga ke dunia, kita sebaliknya," jata Wisnu Martha Adiputra seperti dikutip dari situs resmi UGM Senin (13/9/2021).

Dia menilai masyarakat sebenarnya sudah jengah dengan kondisi penyiaran Indonesia, terutama televisi swasta yang terlalu mengejar keuntungan komersial.

Wisnu menekankan, konten yang disuguhkan jauh dari konten pendidikan dan moral.

Baca juga: Blesscon Buka 7 Posisi Lowongan Kerja bagi Lulusan D3-S1, Ayo Daftar

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengejar keuntungan, abaikan regulasi

Asal masyarakat tertarik terutama hal-hal yang berbau selebritis, apapun kemudian disampaikan ke medianya.

Menurut Wisnu, demi mengejar keuntungan komersial berlebihan inilah yang kemudian cenderung mengabaikan aturan-aturan (regulasi) dan norma di masyarakat.

Hal ini pula yang berulangkali dilakukan televisi-televisi swasta dalam menghadirkan tayangan kurang bermutu tanpa menimbang kondisi di masyarakat.

"Contohnya belum terlalu lama, kita melihat tayangan pernikahan selebriti yang berjam-jam hingga mengganggu ruang publik. Atau yang masih segar bagaimana televisi swasta mengglorifikasi kebebasan Saipul Jamil dari hukuman yang begitu berlebihan," tegas Wisnu.

Bahkan, terkait pemberitaan kebebasan Saipul Jamil, Wisnu menilai beberapa media online terlalu provokatif.

Baca juga: Astra Honda Motor Buka 5 Lowongan Kerja bagi Lulusan S1

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.