Kompas.com - 19/10/2021, 15:37 WIB
Ilustrasi Mahasiswa SHUTTERSTOCKIlustrasi Mahasiswa

Seseorang dengan pola pikir growth mindset percaya bahwa kemampuan selalu bisa dikembangkan dengan usaha untuk menjadi lebih baik lebih maksimal.

Sedangkan fix mindset percaya bahwa hal yang dimiliki merupakan suatu ketetapan yang tidak bisa diubah dan cenderung mencari kesempurnaan.

“Jadi growth mindset lebih ke proses sedangkan fix mindset lebih ke hasil akhirnya. Mindset tentang apa saja yang dapat kita kontrol dan tidak menjadi salah satu modal kita untuk menghidupi perjalanan ikigai kita,” tegas Pundani.

Ikigai, lanjut dia, merupakan suatu konsep yang berasal dari Jepang. Konsep tersebut membicarakan tentang cara individu sebagai manusia menemukan sebuah makna akan keberadaannya dalam kehidupan di dunia ini.

Baca juga: Beasiswa S2 Jepang 2022, Kuliah Gratis dan Tunjangan Rp 18 Juta Per Bulan

Ikigai memiliki 4 elemen yang saling terkait untuk membantu melakukan refleksi diri. Terdiri dari passion (berkaitan dengan hal yang diminati), profession (mengarah kepada skill), vocation (hal yang membuat seseorang dihargai), dan mission (hal yang dibutuhkan dunia).

Ikigai juga memiliki 5 pilar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghidupkan ikigai seseorang.

Pertama adalah releasing yourself, yakni terima apa yang ada di diri sendiri, memahami kelemahan dan kekurangan untuk bisa memaksimalkan kelebihan diri sendiri.

Kedua, harmony and sustainability, yakni dibutuhkan sesuatu yang diharmonisasikan dan support system yang baik untuk mendukung diri menjadi pribadi yang lebih baik, contohnya dengan bergabung dalam sebuah komunitas positif.

Ketiga, the joy of little things, yakni mencoba bahagia dan menghargai hal-hal kecil, dengan mensyukuri hal yang kita punya dan lebih melihat prosesnya dibandingkan dengan hasil.

Pilar terakhir disebut being in the here and now, yakni belajar untuk bisa mindfulness atau memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi saat ini dengan melibatkan kesadaran secara utuh kepada suatu hal yang dilakukan.

Baca juga: Beasiswa S2 University of Cambridge 2022, Tunjangan Rp 351 Juta Per Tahun

Dengan begitu, individu dapat menikmati dan mendapatkan hal yang berharga dari kegiatan yang dilakukan.

“Nah jadi nanti ketika kalian mencoba untuk membuat satu tujuan karier tanyakan pada diri sendiri apakah kita menyukai hal yang kita lakukan dan mampu berkomitmen. Pastinya akan banyak tantangan dan penting untuk tahu bagaimana menyikapinya dengan positif sehingga dapat menjadikan challenge itu sebagai sesuatu proses kita dalam belajar,” pesan Pundita mengakhiri pemaparannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.