Kompas.com - 17/11/2021, 15:04 WIB
Alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Muhammad Miftahussurur satu-satunya peneliti dari Indonesia yang menerima penghargaan Expertscape World Expert sebagai top 0,1 % peneliti yang menulis tentang bakteri Helicobacter Pylori. Dok. UnairAlumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Muhammad Miftahussurur satu-satunya peneliti dari Indonesia yang menerima penghargaan Expertscape World Expert sebagai top 0,1 % peneliti yang menulis tentang bakteri Helicobacter Pylori.

KOMPAS.com - Alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Muhammad Miftahussurur menjadi satu-satunya peneliti dari Indonesia yang menerima penghargaan Expertscape World Expert sebagai top 0,1 % peneliti yang menulis tentang bakteri Helicobacter Pylori.

Helicobacter pylori merupakan sejenis bakteri yang sering dikenal sebagai penyebab utama tukak lambung.

Terhitung sepuluh tahun meneliti, ia menghasilkan 98 publikasi terindeks Scopus. Di mana 80 di antaranya membahas mengenai Helicobacter pylori. Sehingga tak heran jika Expertscape menyebutnya sebagai “Pakar Dunia”.

“Saya kaget tapi Alhamdulillah. Walaupun ini tidak mencerminkan kesemua hal tentang pylori, tetapi saya merasa daftar itu cukup adil karena saya lihat di urutan 1, 2, dan 3 memang itulah ahli pylori dunia,” ucapnya seperti dilansir dari laman Unair, Rabu (17/11/2021).

Baca juga: Peneliti Unair Hadirkan Produk Herbal Obati Gula Darah dan Kolesterol

Saat meneliti bakteri pylori, Miftah pernah harus mengumpulkan 1.000 orang untuk mendapatkan 100 bakteri. Sambil membawa alat endoskopi, ia mulai berkeliling Nusantara.

Di Indonesia sendiri, jelas Miftah, bakteri pylori tinggi hanya pada etnik tertentu, di antaranya Suku Batak, Bugis, Papua, dan Timor.

Sedangkan suku dominan seperti Jawa, Sunda, atau Melayu mempunyai prevalensi bakteri pylori yang rendah bahkan hanya di angka dua persen.

“Angka dua persen itu kan artinya dari 100 orang hanya dua orang yang positif. Dibandingkan dengan Suku Batak yang mencapai 40 persen atau Suku Bugis yang sekitar 38 persen,” papar Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi (IDI) Unair itu.

Temuan itu lantas menjadi fenomena yang menarik perhatian dunia. Sebab, jelasnya, rata-rata tingkat prevalensi Helicobacter pylori di seluruh dunia adalah 40 sampai 60 persen.

Baca juga: 5 Cara Usir Tikus di Rumah dari Pakar Tikus IPB

“Ini menjadi pusat perhatian. Di situlah publikasi-publikasi kita bisa diterima. Di negara-negara maju seperti Jepang prevalensinya mencapai 40 sampai 60 persen. Sedangkan negara-negara Afrika di angka 60 sampai 70 persen. Nah, kita ini hanya dua persen, makanya menarik,” terang Miftah.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.