Kompas.com - 30/11/2021, 14:42 WIB
Linda, satu individu orangutan betina dan dua bayi kembarnya tertangkap kamera petugas di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Sabtu (18/7/2020). Potensi kelahiran kembar orangutan Kalimantan hanya 1,2 persen.   KOMPAS.com/Dok. Humas Balai TNTPLinda, satu individu orangutan betina dan dua bayi kembarnya tertangkap kamera petugas di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Sabtu (18/7/2020). Potensi kelahiran kembar orangutan Kalimantan hanya 1,2 persen.
|

Dia menambahkan, sebelumnya kasus orangutan memakan kukang hanya dijumpai di Sumatera, tepatnya di Ketambe dan Suaq Balimbing, dua stasiun riset di Taman Nasional Gunung Leuser, Provinsi Aceh. Kasus di Kalimantan umumnya hanya terkait dengan memakan tikus dan tupai.

Kukang atau Nycticebus sp. sendiri merupakan primata kecil yang cenderung aktif di malam hari dan memiliki bisa beracun.

Bisa yang disinyalir dapat membuat shock hingga mematikan tersebut berasal dari kelenjar yang terletak dibawah ketiak kukang, dan diaktifkan saat tercampur liur ketika kukang menjilat ketiaknya.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional itu mengatakan bahwa perilaku memangsa kukang oleh orangutan umumnya sama, baik di Sumatera maupun Kalimantan.

Berbeda dengan kera besar Simpanse yang memang berburu primata lain, orangutan lebih cenderung hanya bila bertemu dengan kukang.

Dikatakan, tidak semua perjumpaan orangutan dan kukang berujung pada pemangsaan. Seperti yang terjadi di Sebangau, Kalimantan Tengah bahwa tidak terjadi perilaku agresif, bahkan kukang bermain bersama dengan remaja orangutan.

Sementara Dr. Tatang Mitra Setia, Dekan Fakultas Biologi Unas mengatakan, hasil observasi ini merupakan kasus yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Ini karena merupakan dokumentasi pertama orangutan Kalimantan terlihat mengkonsumsi primata lainnya setelah 50 tahun berjalannya penelitian kera besar tersebut di Kalimantan.

"Banyak hal yang menarik dalam mempelajari orangutan. Semakin diteliti, semakin banyak diketahui. Oleh sebab itu, mari kita jaga orangutan dan habitatnya," terangnya.

Baca juga: Mahasiswa Undip Inovasi Sabun Antiseptik Covid-19 dari Ampas Teh

Adapun penelitian yang dilakukan di stasiun riset orangutan Tuanan yang berdiri sejak tahun 2003 itu, merupakan stasiun riset kerjasama antara Universitas Nasional dengan berbagai universitas dan lembaga konservasi lainnya di Indonesia.

Seperti di Indonesia ada BOSF, BKSDA Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan/KPHL Kalimantan Tengah). Maupun luar negeri beberapa Universitas yang digandeng antara lain Rutgers University dari New Jersey, Amerika Serikat dan Zurich University dari Swiss.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.