Kompas.com - 05/12/2021, 07:15 WIB
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Bagi sivitas akademika, membuat tulisan dalam bentuk karya ilmiah maupun jurnal menjadi aktivitas yang perlu dibudayakan.

Namun dalam proses pembuatannya, tiap sivitas akademika tentu harus menghindari meniru karya orang lain. Hal ini biasa disebut plagiarisme.

Bahkan saat ini sudah ada sejumlah kebijakan untuk memberi sanksi kepada sivitas akademika yang terbukti melakukan plagiat terhadap karya orang lain.

Tema ini juga menjadi topik dalam acara workshop Anti-plagiarisme yang diadakan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) melalui Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA).

Baca juga: 7 Hal Ini Tidak Boleh Dibagikan di Media Sosial Menurut Dosen UII

Ruang lingkup plagiarisme

Acara yang bertajuk 'Cegah Plagiarisme Sebagai Wujud Integritas Bangsa Indonesia' ini menghadirkan Jurnal Manager Lembaga Riset dan Inovasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LRI UMY) Wahyu Budi Nugroho. Menurut Wahyu ada enam ruang lingkup plagiarisme, yaitu:

  • Dalam kata-kata: yaitu mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tidak menyebutkan identitas sumbernya.
  • Dalam gagasan: yaitu menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.
  • Dalam fakta: melalui penggunaan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
  • Dalam tulisan: mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.
  • Dalam parafrase: yaitu melakukan parafrase tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
  • Dalam karya ilmiah: dengan menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dari/atau telah dipublikasikan pihak lain seolah-olah sebagai karya sendiri.

Baca juga: Pamapersada Buka 16 Posisi Lowongan Kerja Lulusan D3-S1, Buruan Daftar

Tipe plagiarisme

Wahyu mengatakan, dalam ruang lingkup kata-kata, plagiarisme berlaku dalam mengambil beberapa kutipan. Baik itu kalimat langsung maupun kalimat tidak langsung.

Wahyu menerangkan, mengutip dari Henry Soelistyo tahun 2011, terdapat empat tipe-tipe plagiarisme yaitu:

  • Plagiarisme kata: plagiator menggunakan kata-kata orang lain sama persis tanpa menyebutkan sumbernya.
  • Sumber: menggunakan gagasan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas.
  • Kepengarangan: dengan mengakui karya tulis orang lain sebagai karya tulis miliknya.
  • Self plagiarisme: plagiasi yang dilakukan seorang penulis terhadap karyanya sendiri.

"Apabila plagiarisme dapat terjadi pada karya sendiri dimana penulis menuliskan ulang kalimat yang pernah dibuat dan dirilisnya pada karya tulis lain," ungkap Wahyu seperti dikutip dari laman Unpar, Jumat (3/11/2021).

Baca juga: Mahasiswa Unnes Manfaatkan Limbah Mangrove Jadi Pewarna Batik Alami

Dasar hukum plagiarisme

Wahyu menekankan, walaupun itu tulisan diri sendiri, namun tetap harus mencantumkan sitasinya. 

"Kita harus bangga ketika kita bisa menulis, menyelesaikan karya tulisan kita dengan tulisan kita sendiri. Kita boleh saja mengambil kata-kata orang lain ataupun data orang lain yang penting kita menyebutkan sumbernya dengan jelas," ungkap Wahyu.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.