Kompas.com - 03/02/2022, 10:56 WIB

KOMPAS.com - Meningkatnya suhu akibat pemanasan global berisiko meningkatkan penyakit malaria dan demam berdarah. Pasalnya, nyamuk akan lebih aktif menggigit pada suhu panas 26-35 derajat celsius.

Hal itu disampaikan Pakar Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Malaysia, Rohaida Ismail dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Senin (31/01/2022) lalu.

Ia menjelaskan, perubahan iklim akibat pemanasan suhu global memiliki banyak dampak negatif bagi kehidupan manusia.

Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) pada tahun 2018 menyatakan bahwa kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 – 2 derajat celsius dapat menyebabkan masalah serius bagi ketersediaan air, keamanan pangan, mata pencaharian dan ekonomi global apabila tidak segera ditangani.

Baca juga: Dokter UGM: Gejala DBD pada Anak dan Cara Mengobati

Selain itu, kenaikan suhu bumi juga dapat meningkatkan risiko penyakit tular vektor. Salah satu vektor penyakit yang berisiko tinggi di kawasan Asia adalah nyamuk.

“Karena seperti yang kita ketahui, vektor penyakit seperti nyamuk bisa mentransmisikan penyakit hanya dalam sekali gigitan, dan mereka bisa mengancam kita di mana saja serta kapan saja,” ujarnya seperti dilansir dari laman Unair.

Berdasarkan data dari WHO, kawasan Asia memiliki jumlah kematian akibat kasus penyakit malaria dan demam berdarah tertinggi nomor 2 setelah Afrika. Jika tidak ada upaya untuk mengawal perubahan iklim maka angka kematian akibat malaria dan demam berdarah bisa mencapai 2,700 jiwa dalam satu tahun.

Dirinya melanjutkan, kawasan yang bersuhu dingin seperti Amerika, Australia, China dan Eropa akan mengalami peningkatan suhu akibat pemanasan global.

Hal itu berpotensi menyebabkan penyakit malaria bisa terdistribusi luas di negara yang ada di kawasan tersebut karena dapat mempercepat masa inkubasi ekstrinsik (siklus sporogoni dalam tubuh) nyamuk Anopheles.

Baca juga: 5 Ciri Orang Cerdas Bukan Hanya Dilihat dari IQ, Kamu Punya Ciri-cirinya?

“Yang saat ini angka kejadian malaria hanya terbatas pada kawasan yang beriklim tropis bisa menyebar luas di banyak wilayah akibat peningkatan suhu. selain itu, akibat perubahan iklim, beberapa wilayah di Amerika dan Asia penyakit malaria berpotensi menjadi sebuah epidemi,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.