Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/03/2022, 16:38 WIB

KOMPAS.com - Air menjadi kebutuhan utama manusia untuk hidup. Namun saat manusia tidak bisa menjaga lingkungannya dengan baik, krisis air menjadi suatu ancaman yang bisa saja terjadi.

Dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yang dikeluarkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kelangkaan air di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat.

Kualitas air juga akan terus menurun drastis. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air bersih di Indonesia.

Menurut Guru Besar Teknik Penyehatan Lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Erina Rahmadyanti, kelangkaan air tersebut merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan hidup manusia. Hal ini perlu jadi perhatian semua kalangan.

Baca juga: Orangtua, Begini Tips agar Anak Tidak Malas Menggosok Gigi

Tingkatkan kesadaran dalam memelihara air

Hari Air Sedunia yang diperingati tiap 22 Maret ini harus menjadi momentum untuk memupuk kesadaran bersama dalam memandang, memanfaatkan dan menyikapi ketersediaan air.

Apalagi peringatan Hari Air Sedunia 2022 mengusung tema "Air Tanah, Membuat yang tak Terlihat Menjadi Terlihat" yang secara tidak langsung mengajak untuk melindungi air tanah dari eksploitasi yang semakin berlebihan.

"Ini ancaman serius dan menjadi perhatian dunia," terang Prof. Erina Rahmadyanti seperti dikutip dari laman Unesa, Selasa (22/3/2022).

Dampak krisis air

Prof. Erina Rahmadyanti menerangkan, kelangkaan air mengalami peningkatan seiring terjadinya deforestasi, betonisasi, polusi hingga global warming.

Baca juga: Daftar Universitas Milik BUMN, Calon Mahasiswa Pilih Mana?

80 juta orang di Indonesia belum memiliki akses air bersih

Akibatnya, sepertiga dari seluruh sekolah di dunia tidak memiliki akses air bersih dan sanitasi yang memadai.

Setengah dari rumah sakit diisi penderita penyakit yang disebarkan air atau sanitasi yang buruk. Dua sepertiga penduduk dunia hidup dengan kondisi air yang tercemar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+