Kompas.com - 20/09/2022, 13:44 WIB

KOMPAS.com - Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia bawah 5 tahun akibat kurangnya asupan gizi. Salah satu cirinya ialah tinggi badan anak lebih pendek untuk usianya. Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia.

Meski angka stunting menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, jumlah anak yang mengalami stunting masih beragam antar daerah.

Berbagai strategi nasional ditetapkan pemerintah guna mengurai masalah stunting dan telah diatur melalui Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan stunting dengan target penurunan prevalensi stunting hingga 14 persen pada tahun 2024.

Baca juga: Akhir Pandemi? Epidemiolog UGM: Covid Bukan Lagi Ancaman Utama

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa biskuit menjadi salah satu program pemerintah yang dicanangkan untuk menangani kejadian stunting yang masih banyak ditemui di Indonesia.

Namun, makanan tambahan ini kerap menggunakan fortifikasi untuk menambah zat gizi dengan bahan baku yang masih diimpor sehingga menimbulkan persoalan biaya.

Melihat persoalan ini, mahasiswa UGM membuat inovasi PMT dengan harga terjangkau dan bahan yang mudah ditemui berupa Sprouted Snack Bar (SSB) yang dapat memenuhi 3 zat gizi utama untuk mencegah stunting yaitu protein, zat besi, dan seng.

Camilan anti-stunting mahasiswa UGMDok. UGM Camilan anti-stunting mahasiswa UGM

Mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Adiva Aphrodita mengatakan bahwa camilan SSB ini terbuat dari bahan utama kacang merah berkecambah, beras merah berkecambah, kacang kedelai berkecambah, dan pisang.

Baca juga: Masyarakat Bisa Lihat Hasil Rapor Pendidikan Indonesia, Ini Cara Akses

“Alasan dipilihnya produk snack bar karena camilan ini disukai anak-anak dan memiliki masa simpan yang cukup lama,” terang Adiva dalam keterangan tertulis Universitas Gadjah Mada.

Bijian berkecambah sendiri memiliki kandungan protein dan mikronutrien yang lebih tinggi dibanding biji utuh karena proses perendaman dan perkecambahan dapat meningkatkan nutrien yang terkandung.

Kedelai, beras merah, dan kacang merah yang telah berkecambah pun dikatakannya mengandung protein tinggi dan kadar fitat menurun yang mampu meningkatkan kadar zat besi dan seng.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.