"Laut Bercerita" yang Bikin Merinding - Kompas.com

"Laut Bercerita" yang Bikin Merinding

Kompas.com - 29/01/2018, 14:20 WIB
Novel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.  
Dok KPG Novel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.

KOMPAS.com - Setelah hampir tiga bulan disekap dalam gelap, mereka membawaku ke sebuah tempat. Hitam. Kelam.

Selama tiga bulan mataku dibebat kain apak yang hanya sesekali dibuka saat aku berurusan dengan tinja dan kencing.

Aku ingat pembicaraanku dengan Sang Penyair. Dia berkata bahwa dia tak takut pada gelap. Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. Ada perempuan dan ada lelaki.

"Gelap adalah bagian dari alam," kata Sang Penyair. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi. Aku tak tahu apakah saat ini aku sedang mengalami kegelapan. Atau kekelaman. "

Merinding

Narasi dalam gelap itu menggema di studio mini di bilangan Petogogan, Jakarta Selatan, Rabu (17/1/2018) lalu. Seorang tokoh lelaki berambut ikal, pendek, dan awut-awutan, diseret tak berdaya ke dalam sel penjara.

Tubuhnya ringkih dan bergetar. Wajahnya lebam dan berdarah-darah. Ia meringkuk ke sana-kemari tapi kenyamanan yang diharapkan tak tergapai.

Dari sel sebelah, Sunu membuka satu-satunya kaos yang melekat di badan. Ia mengetok sel di kanan seraya menyelipkan bajunya ke dalam. Dengan susah payah, Laut merangkak dan memungut kaos Sunu. Ia bergelung pada kehangatan yang secuil itu.

Adegan penyiksaan—yang tentunya tak seintens dalam novel—sejak awal membuat para penonton bergidik ngeri.

"Siapa pun penata riasnya, saya salut. Bikin merinding. Jadi lebih kebayang seberapa menderita dan tersiksanya para aktivis di penjara,” tutur Maria Widjaja, karyawan swasta yang gemar membaca, usai menonton film pendek Laut Bercerita.

Maria sendiri sudah lebih dulu membaca bukunya sebelum menonton film pendek sebagai teaser novel terbaru karya Leila S. Chudori ini. Setelah melihat film pendeknya, ia pun merasa semakin hanyut dalam cerita. Apa yang sebelumnya hanya sebuah bacaan dengan daya khayal yang kabur, jadi begitu nyata lewat live action garapan kolektif Cineria Films dan Yayasan Dian Sastrowardoyo itu.

Laut Bercerita mengambil latar waktu antara 1991-2007. Cerita terbagi menjadi dua sudut pandang, dari kakak-beradik Biru Laut dan Asmara Jati. Di bagian Biru Laut, cerita terangkai meliputi “Seyegan, 1991” hingga “Di Sebuah Tempat, di Dalam Kelam, 1998”, sedangkan Asmara Jati dimulai dengan “Ciputat tahun 2000” sampai “Di Depan Istana Negara, 2007”.

Seperti berkali-kali ditegaskan Leila, novel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi. 

Sebut saja di antaranya kisah nyata dari pemimpin redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria; penyair Orde Baru, Wiji Thukul; dan rekan-rekan aktivis yang hilang maupun selamat, seperti Noval Alkatiri, Suyat, Wilson, Mugiyanto Sipin, Waluyo Jati, dan Budiman Sudjatmiko. Belum terhitung pula anggota keluarga korban penghilangan paksa yang menjadi narasumber utamanya.

Fiktif tapi terasa nyata. Di mata pembaca seperti Maria, fakta sejarah dalam novel ini sangat meresap. Apalagi aktualitas sejarahnya diakui Maria relevan dengan dirinya, yang sudah hidup dan punya kesadaran akan apa yang terjadi pada masa itu. Walaupun begitu, bagi mereka yang tidak merasakan sejarah kelam Indonesia pun bisa menikmati rangkaian cerita yang tak menggurui.

"Kalau kronologi soal perjuangan mahasiswa pada 1998, itu sudah ada ceritanya di mana-mana. Tapi ada satu kesegaran yang Mbak Leila sajikan dalam Laut Bercerita, yakni faktor kemanusiaan," cetus Maria.

Dalam era Orde Baru, aspek kemanusiaan kerap dilupakan. Salah satu akibat dari rezim tangan besi itu adalah penderitaan keluarga korban penghilangan paksa. Penantian panjang terhadap anak dan saudara terkasih, yang entah masih hidup ataukah tiada. Jika sudah mati, di manakah gerangan jasadnya? Ini selaras dengan perkataan Leila.

Dalam novel terbarunya yang sukses dicetak ulang dua kali dalam kurun waktu kurang dari satu caturwulan itu, ia menuliskan, "Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan."

"Dan rasa kehilangan keluarga korban itu digambarkan dengan sangat baik oleh Leila Chudori," tukas Maria.

Rahasia Asmara Jati dan Sang Penyair

Apa pertimbangan Leila memutuskan mengambil tokoh Asmara Jati sebagai satu sudut pandang lain dalam penceritaan? Bila membicarakan soal kehilangan, sebenarnya orangtua memiliki kesan lebih mendalam, sehingga mengapa tidak menggunakan perspektif ibu atau ayah Biru Laut? Tidak mustahil juga untuk direfleksikan lewat mata berkaca-kaca kekasih Biru Laut, Ratih Anjani?

Leila menjawab, memang, ada dilema ketika ia memutuskan tokoh mana yang tepat untuk melanjutkan cerita Biru Laut. Tokoh pertama yang terlintas dalam benaknya, adalah ibu Biru Laut. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir dan mengukur kemampuan diri, Leila mengaku tak sanggup melanjutkan bagian keduanya jika memakai sudut pandang sang ibu. Kekalutan Ibu Wibisana, dan penyangkalan beliau, serta kerapuhannya, dirasa kurang kuat untuk meneruskan bagian kedua Laut Bercerita.

"Sebagai ibu, saya enggak kuat," katanya berterus terang.

"Saya bisa membayangkan kalau dibuat dari sisi ibu Biru Laut, maka yang terjadi akan banjir air mata sekali. Saya juga menulisnya bisa sambil sesenggukan terus," akunya.

Di tengah penggarapan itulah, Leila memutar haluan. Ia beralih pada Asmara Jati. Bagi Leila, sosok Asmara Jati sejak awal adalah kunci.

Sosok kunci yang dibanding tokoh lain, paling menyuarakan rasionalitas di tengah situasi politik nasional yang memanas. Tak heran, dia menjadikan adik Biru Laut itu sebagai seorang dokter yang cerdas, matang, dan penuh perhitungan. Dia juga yang tak putus-putus mengingatkan betapa besar risiko dan bahaya yang akan dihadapi abangnya jika terus melanjutkan aksi protes terhadap pemerintah.

"Saya merasa harus ada tokoh yang rasional, yang menjaga agar semua tetap terkendali. Keluarga ini beres dan cerita tetap berjalan. Asmara Jati adalah sosok yang mewakili suara saya," paparnya.

Tokoh lain yang menggelitik rasa penasaran peserta adalah Gala Pranaya, yang dijuluki Sang Penyair karena puisi-puisinya dianggap setingkat dewa. Dalam Laut Bercerita, begini penggambaran atas Sang Penyair:

Tubuh Sang Penyair yang tipis itu masih sama. Di atas mata kirinya terlihat bekas jahitan yang cukup panjang. Dia terlihat begitu bersinar tapi toh (sekaligus) begitu sederhana. (hlm. 61)
Deskripsi tersebut mengingatkan kita kepada penyair cadel yang juga tak ketahuan rimbanya, Wiji Thukul. Seperti kita tahu, mata kanan Wiji agak cacat karena mengalami kecelakaan kerja pada 1995.

Lalu pada halaman 82, Sang Penyair diciri-cirikan kurus, kumal, berkulit kusam, dan penyendiri. Sang Penyair sudah lulus SMA dua tahun sebelumnya dan tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena katanya, "Aku masih mengurus empat orang adikku."

Leila pun menjelaskan bahwa sejauh ini dia tak pernah menulis satu karakter fiksi yang merupakan cerminan satu orang nyata. Yang ada, dia selalu mengombinasikan tiga atau empat karakter tokoh asli yang dileburkan jadi satu tokoh fiksi. Mengenai Sang Penyair, terungkap bahwa ia perwujudan dari Wiji Thukul, Soetardji Calzoum Bachri, dan WS. Rendra.

"Siapa sih yang tidak tahu puisi-puisi Wiji Thukul? Semua tahu, tapi saya tidak mengenal Wiji secara pribadi. Memang puisi-puisi dia sifatnya mengkritik pemerintah, tapi Sang Penyair sebenarnya juga mewakilkan beberapa penyair," ucapnya.

Salah satu puisi yang dikutip Leila dengan seizin penciptanya, Soetardji, bahkan telah menjadi jiwa bagi novel Laut Bercerita yang bisa dilihat di http://www.penerbitkpg.id/book/laut-bercerita/.

“Matilah engkau mati/Kau akan lahir berkali-kali”. Soetardji, bagi Leila, menjadi sosok penginspirasi terciptanya peran Sang Penyair sebagai mentor Biru Laut.

"Dia (Sang Penyair) semacam mentor spiritual, di situ ada kehadiran Soetardji,” bebernya.
Tak ketinggalan, Rendra dengan puisinya “Sajak Seonggok Jagung” menjadi narasi pembuka yang pas untuk aksi Tanam Jagung Blangguan kawan-kawan Wirasena pada 1993. Ini merupakan salah satu bab tersulit bagi Leila karena sebagai jurnalis, dia tidak pernah mengalami geregetnya aksi kucing-kucingan antara para aktivis dan aparat di ladang jagung Blangguan.

(SILVIANA DHARMA/ KPG)


EditorLatief
Komentar
Close Ads X