Kompas.com - 29/01/2018, 14:20 WIB
Novel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.  
Dok KPGNovel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.
EditorLatief

"Saya merasa harus ada tokoh yang rasional, yang menjaga agar semua tetap terkendali. Keluarga ini beres dan cerita tetap berjalan. Asmara Jati adalah sosok yang mewakili suara saya," paparnya.

Tokoh lain yang menggelitik rasa penasaran peserta adalah Gala Pranaya, yang dijuluki Sang Penyair karena puisi-puisinya dianggap setingkat dewa. Dalam Laut Bercerita, begini penggambaran atas Sang Penyair:

Tubuh Sang Penyair yang tipis itu masih sama. Di atas mata kirinya terlihat bekas jahitan yang cukup panjang. Dia terlihat begitu bersinar tapi toh (sekaligus) begitu sederhana. (hlm. 61)
Deskripsi tersebut mengingatkan kita kepada penyair cadel yang juga tak ketahuan rimbanya, Wiji Thukul. Seperti kita tahu, mata kanan Wiji agak cacat karena mengalami kecelakaan kerja pada 1995.

Lalu pada halaman 82, Sang Penyair diciri-cirikan kurus, kumal, berkulit kusam, dan penyendiri. Sang Penyair sudah lulus SMA dua tahun sebelumnya dan tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena katanya, "Aku masih mengurus empat orang adikku."

Leila pun menjelaskan bahwa sejauh ini dia tak pernah menulis satu karakter fiksi yang merupakan cerminan satu orang nyata. Yang ada, dia selalu mengombinasikan tiga atau empat karakter tokoh asli yang dileburkan jadi satu tokoh fiksi. Mengenai Sang Penyair, terungkap bahwa ia perwujudan dari Wiji Thukul, Soetardji Calzoum Bachri, dan WS. Rendra.

"Siapa sih yang tidak tahu puisi-puisi Wiji Thukul? Semua tahu, tapi saya tidak mengenal Wiji secara pribadi. Memang puisi-puisi dia sifatnya mengkritik pemerintah, tapi Sang Penyair sebenarnya juga mewakilkan beberapa penyair," ucapnya.

Salah satu puisi yang dikutip Leila dengan seizin penciptanya, Soetardji, bahkan telah menjadi jiwa bagi novel Laut Bercerita yang bisa dilihat di http://www.penerbitkpg.id/book/laut-bercerita/.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Matilah engkau mati/Kau akan lahir berkali-kali”. Soetardji, bagi Leila, menjadi sosok penginspirasi terciptanya peran Sang Penyair sebagai mentor Biru Laut.

"Dia (Sang Penyair) semacam mentor spiritual, di situ ada kehadiran Soetardji,” bebernya.
Tak ketinggalan, Rendra dengan puisinya “Sajak Seonggok Jagung” menjadi narasi pembuka yang pas untuk aksi Tanam Jagung Blangguan kawan-kawan Wirasena pada 1993. Ini merupakan salah satu bab tersulit bagi Leila karena sebagai jurnalis, dia tidak pernah mengalami geregetnya aksi kucing-kucingan antara para aktivis dan aparat di ladang jagung Blangguan.

(SILVIANA DHARMA/KPG)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.