Kompas.com - 29/01/2018, 14:20 WIB
Novel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.  
Dok KPGNovel berlatar belakang sejarah tahun 1998 ini fiktif. Meski begitu, ia membenarkan bahwa beberapa adegan didasarkan pada kisah dan obrolan nyata para aktivis pra-reformasi.
EditorLatief

Sebut saja di antaranya kisah nyata dari pemimpin redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria; penyair Orde Baru, Wiji Thukul; dan rekan-rekan aktivis yang hilang maupun selamat, seperti Noval Alkatiri, Suyat, Wilson, Mugiyanto Sipin, Waluyo Jati, dan Budiman Sudjatmiko. Belum terhitung pula anggota keluarga korban penghilangan paksa yang menjadi narasumber utamanya.

Fiktif tapi terasa nyata. Di mata pembaca seperti Maria, fakta sejarah dalam novel ini sangat meresap. Apalagi aktualitas sejarahnya diakui Maria relevan dengan dirinya, yang sudah hidup dan punya kesadaran akan apa yang terjadi pada masa itu. Walaupun begitu, bagi mereka yang tidak merasakan sejarah kelam Indonesia pun bisa menikmati rangkaian cerita yang tak menggurui.

"Kalau kronologi soal perjuangan mahasiswa pada 1998, itu sudah ada ceritanya di mana-mana. Tapi ada satu kesegaran yang Mbak Leila sajikan dalam Laut Bercerita, yakni faktor kemanusiaan," cetus Maria.

Dalam era Orde Baru, aspek kemanusiaan kerap dilupakan. Salah satu akibat dari rezim tangan besi itu adalah penderitaan keluarga korban penghilangan paksa. Penantian panjang terhadap anak dan saudara terkasih, yang entah masih hidup ataukah tiada. Jika sudah mati, di manakah gerangan jasadnya? Ini selaras dengan perkataan Leila.

Dalam novel terbarunya yang sukses dicetak ulang dua kali dalam kurun waktu kurang dari satu caturwulan itu, ia menuliskan, "Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan."

"Dan rasa kehilangan keluarga korban itu digambarkan dengan sangat baik oleh Leila Chudori," tukas Maria.

Rahasia Asmara Jati dan Sang Penyair

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Apa pertimbangan Leila memutuskan mengambil tokoh Asmara Jati sebagai satu sudut pandang lain dalam penceritaan? Bila membicarakan soal kehilangan, sebenarnya orangtua memiliki kesan lebih mendalam, sehingga mengapa tidak menggunakan perspektif ibu atau ayah Biru Laut? Tidak mustahil juga untuk direfleksikan lewat mata berkaca-kaca kekasih Biru Laut, Ratih Anjani?

Leila menjawab, memang, ada dilema ketika ia memutuskan tokoh mana yang tepat untuk melanjutkan cerita Biru Laut. Tokoh pertama yang terlintas dalam benaknya, adalah ibu Biru Laut. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir dan mengukur kemampuan diri, Leila mengaku tak sanggup melanjutkan bagian keduanya jika memakai sudut pandang sang ibu. Kekalutan Ibu Wibisana, dan penyangkalan beliau, serta kerapuhannya, dirasa kurang kuat untuk meneruskan bagian kedua Laut Bercerita.

"Sebagai ibu, saya enggak kuat," katanya berterus terang.

"Saya bisa membayangkan kalau dibuat dari sisi ibu Biru Laut, maka yang terjadi akan banjir air mata sekali. Saya juga menulisnya bisa sambil sesenggukan terus," akunya.

Di tengah penggarapan itulah, Leila memutar haluan. Ia beralih pada Asmara Jati. Bagi Leila, sosok Asmara Jati sejak awal adalah kunci.

Sosok kunci yang dibanding tokoh lain, paling menyuarakan rasionalitas di tengah situasi politik nasional yang memanas. Tak heran, dia menjadikan adik Biru Laut itu sebagai seorang dokter yang cerdas, matang, dan penuh perhitungan. Dia juga yang tak putus-putus mengingatkan betapa besar risiko dan bahaya yang akan dihadapi abangnya jika terus melanjutkan aksi protes terhadap pemerintah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.