KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyebut, perguruan tinggi (PT) memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul di Indonesia.
Sebab, setelah meraih gelar sarjana, para lulusan S1 bakal langsung menghadapi tantangan di dunia kerja.
"Maka, inilah saatnya kita tingkatkan kualitas lulusan S1 kita," ajak Nadiem Makarim saat menjelaskan tentang kebijakan Kampus Merdeka dalam rapat koordinasi kebijakan pendidikan tinggi di Gedung D kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Jumat (24/1/2020).
Baca juga: 9 Rangkuman Seputar Re-akreditasi Bersifat Sukarela di Kampus Merdeka
Menurutnya, sebagai ujung tombak penyiapan SDM, maka perguruan tinggi harus terus bergerak dan berbenah dalam memperkuat bekal para sarjana di Indonesia sesuai dengan perkembangan zaman.
"Perguruan tinggi harus lebih cepat berinovasi dibandingkan jalur pendidikan lainnya. Perguruan tinggi juga harus adaptif dan berubah dengan lincah menyesuaikan dengan kebutuhan di dunia kerja," ujar Nadiem.
Lebih jauh, Nadiem mengungkapkan, inovasi dalam pembelajaran dan pengabdian masyarakat adalah tujuan utama pendidikan tinggi. Inovasi hanya bisa terjadi di dalam suatu ekosistem yang tidak dibatasi.
Lantas, apa solusinya? Menurut Nadiem, solusinya adalah Kemendikbud mendukung kolaborasi antara universitas dengan berbagai pihak di luar kampus untuk menciptakan prodi-prodi baru.
Melalui kebijakan ini, perguruan tinggi yang memiliki akreditasi A dan B dapat mengajukan prodi baru jika ada kerjasama dengan organisasi dan/atau QS top 100 World Universities.
Baca juga: Alternatif 6 Mitra Kerjasama untuk Membangun Semangat Kampus Merdeka
"Artinya, untuk perguruan tinggi dengan akreditasi A dan B tidak perlu lagi melalui perizinan prodi di kementerian, asal mereka bisa membuktikan telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak," sambung Nadiem Makarim.
Kerjasama itu antara lain dapat dilakukan dengan;
Sebagai catatan, prodi baru yang diusulkan tersebut bukan di bidang kesehatan. Dalam hal ini pendidikan kedokteran, farmasi, kebidanan, kesehatan masyarakat, dan jurusan-jurusan kesehatan lainnya.
Baca juga: Kampus Merdeka, Ini 5 Serba-Serbi Seputar Pembukaan Prodi Baru
Bagi Nadiem, kebijakan pemberian otonomi untuk membuka prodi baru ini sebagai upaya untuk menyediakan kurikulum yang lebih prioritas untuk dikuasai oleh mahasiswa Indonesia.
"Kita dorong upaya link and match antara bekal keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan industri sehingga lebih bisa bersaing di panggung dunia," jelas Nadiem.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.