Kompas.com - 16/07/2013, 14:43 WIB
EditorLatief

- Pariwisata kini sudah dianggap sebagai sebuah subjek studi akademik secara serius.
- Sebelum tahun 1980-an, studi pariwisata dipandang oleh banyak akademisi dan analis sebagai suatu subjek yang dangkal (superficial) dan kurang berharga, tidak seperti subjek-subjek lain seperti sejarah, ekonomi, dan politik. Pariwisata sering dianggap sebagai sebuah subjek pada tingkatan praktisi yang diajarkan untuk pada craft level.

- Pada 1990-an, hal tersebut berubah. Saat ini, pariwisata diajarkan di banyak sekolah, kampus, politeknik, dan universitas di seluruh dunia, dengan berbagai kualifikasi mulai darilevel sertifikat hingga PhD, dan menjadi dewasa sebagai sebuah subyek.

- Buku-buku teks yang telah membantu pendewasaan pariwisata saat ini kebanyakan ditulis dan diterbitkan pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an (walau ada sejumlah kecil di tahun 1970-an dan di awal milenium).

- Buku ini juga menyebutkan tentang Annals of Tourism Research, Tourism Management, dan Journal of Travel Research yang memunculkan pariwisata sebagai sebuah subjek yang serius di tingkat vokasi, sarjana, dan pascasarjana di seluruh dunia.

- Saat ini, edukasi pariwisata dilengkapi dengan kemajuan teknologi, seperti Travel Trade Gazette dan sumber berita kabel seperti TravelMole (www.travelmole.com) di mana temuan-temuan riset juga dipublikasikan. Buku-buku teks pariwisata disebutkan sebagai media penting bagi diskusi tentang pariwisata, konsep, dan pengembangannya.

- Buku-buku teks pariwisata yang tersedia ditulis melalui persepsi Amerika (Mathieson and Wall, 1982; Mill and Morrison, 1985; Murphy, 1985), Eropa (Foster, 1985; Cooper et al. 2005) atau Australasia (Pearce, 1995; Hall at al, 2003) atau Asia (Hall and Page, 2000) dan negara-negara berkembang atau masyarakat asli (Hall dan Page, 1996).

5. Tahun 2006 (Tourism Management–Third Edition (Weaver and Lawton, 2006)
Buku ini diterbitkan di Inggris dan pada umumnya membahas tentang manajemen kepariwisataan bersifat komprehensif. Riset kepariwisataan merupakan satu topik yang dibahas dalam salah satu sub-bab dengan point-point sebagai berikut:

- Pada umumnya, buku ini melihat hambatan-hambatan perkembangan pariwisata sebagai sebuah ilmu, indikasi perkembangannya, urutan platform pariwisata, dan pendidikan tinggi.

- Hambatan-hambatan perkembangan pariwisata mengulas tentang pariwisata yang dipandang sebagai sebuah aktifitas trivial (dangkal), pariwisata skala besar sebagai kegiatan kekinian, pariwisata yang dipandang sebagai studi vokasi, kurangnya definisi yang jelas dan data yang dapat dipercaya, kurangnya teori-teori asli atau tradisi akademis yang kuat.

- Indikasi perkembangan mengulas tentang perkembangan pariwisata dalam sektor universitas, perkembangan jumlah jurnal-jurnal referensi.

- Urutan platform pariwisata meninjau advocacy, cautionary, adaptancy, dan knowledge-based.

- Menjelaskan bagaimana pariwisata sering termarjinalisasi dari disiplin-disiplin lainnya di tahun 1980an, namun kini semakin (walau belum sepenuhnya) dianggap sebagai sebuah keilmuan yang penting.

(Penulis adalah Research Coordinator Hotel Management Department di Binus University)

"Bergabunglah dengan komunitas kelas dunia: www.binus.ac.id

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.