Kompas.com - 02/05/2014, 21:03 WIB
EditorHindra Liauw

Di kampus itu, banyak mahasiswa yang bekerja, seperti pemulung, office boy, tukang jualan keliling, tukang parkir, tukang batu, kuli bangunan, dan pekerja rumah tangga. ”Salah satu alumnus kami yang dulu pemulung kini jadi dosen di sini,” kata Darsono.

Motivasi mengelola universitas dengan biaya paling murah itu jadi semacam pelampiasan bagi Darsono yang nyaris tak bisa sekolah waktu kecil. Ia menyadari, untuk bisa mengubah nasib warga, bergerak vertikal dalam strata sosial, pendidikan adalah salah satu caranya.

”Ini semacam balas dendam karena waktu itu saya untuk sekolah sulit,” katanya didampingi Rektor Unpam Dayat Hidayat.

Menurut Darsono, sewaktu masih di hidup kampung halaman, keinginannya untuk sekolah tidak didukung orangtuanya yang kurang mampu. ”Kalau orangtua tidak diikuti, kan, sering marah. Tapi saya memahami, karena budayanya, dan pola pikir orangtua waktu itu hanya sampai di situ. Tetapi saya nekat sekolah sehingga orangtua bilang saya harus pergi dari rumah,” katanya.

Darsono pun keluar dari rumah orangtuanya yang ditinggali bersama delapan saudaranya yang lain. ”Saya bulatkan tekad. Kebetulan di kampung banyak yang ikut transmigrasi, jadi banyak rumah kosong sehingga saya tinggal di salah satu rumah kosong itu,” kisah ayah dua anak asal Kampung Nglaren, Potorono, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, ini.

Untuk membiayai hidup dan sekolahnya, ia membikin batu bata merah. Setamat IKIP 1982, Darsono merantau ke Jakarta.

Di Ibu Kota ia ditampung oleh seorang pedagang daun pisang di Pasar Mampang. Ia bisa tinggal gratis di rumah orang itu dengan tugas mengajar anak-anaknya agar bisa sekolah.

Sambil mengajar, ia berkeliling Jakarta mencari kerja serabutan, berdagang elektronik bekas, dan lain-lain. Ia kemudian melamar ke Pusat Penataran Guru. Namun, untuk mengimbangi gajinya, ia bekerja sambilan sebagai tukang kredit elektronik bekas.

Kisah berlanjut. Darsono lalu mendirikan SMEA di sebuah kawasan yang terletak di sekitar Bundaran Pamulang. Inilah cikal bakal berdirinya Unpam. Begitu membuka pendaftaran pada 2004, jumlah mahasiswa bertambah dari hanya 120 orang menjadi 700 orang. Unpam terus berkembang dan mempunyai bangunan sendiri yang terletak di sebelah SMK Sasmita Jaya. Kampus itu kini terlihat menjadi bangunan tertinggi dan salah satu yang termegah di Pamulang, menampung ribuan mahasiswa.

Tahun 2013, Unpam menerima 13.000 mahasiswa dari 20.000 pendaftar. Meski murah, ia memastikan kampus itu tidak mengabaikan mutu. Kampus diasuh 930 dosen. ”Untuk meningkatkan kapasitas, kami sekolahkan mereka. Misalnya ada 18 dosen S-3 di Trisakti, ada juga di kampus lain,” katanya.

Melalui Unpam, Darsono menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Ia percaya: pendidikan adalah ”jembatan emas” memperbaiki hidup. (RAY/PIN/MAM/NEL/MDN/NAR)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.