Kompas.com - 05/03/2015, 02:46 WIB
Undang-undang Belanda, yaitu Undang-Undang Pendidikan Tinggi dan Penelitian, menyatakan bahwa program gelar yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi harus dievaluasi terhadap seperangkat kriteria tertentu dengan menilai isi dan tingkat studinya. M Latief/KOMPAS.comUndang-undang Belanda, yaitu Undang-Undang Pendidikan Tinggi dan Penelitian, menyatakan bahwa program gelar yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi harus dievaluasi terhadap seperangkat kriteria tertentu dengan menilai isi dan tingkat studinya.
Penulis Latief
|
EditorLatief

Undang-undang Belanda, yaitu Undang-Undang Pendidikan Tinggi dan Penelitian, menyatakan bahwa program gelar yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi harus dievaluasi terhadap seperangkat kriteria tertentu dengan menilai isi dan tingkat studinya. Bukan program yang mengada-ada atau gonta-ganti. Pasalnya, program sarjana dan master yang memenuhi kriteria akan diakreditasi atau diakui secara resmi oleh Organisasi Akreditasi Belanda dan Flander (Accreditation Organization of the Netherlands and Flanders (NVAO).

Anda hanya akan diberikan gelar yang diakui setelah menyelesaikan program studi gelar yang telah terakreditasi. Sistem akreditasi ini diciptakan agar program studi pendidikan tinggi di Belanda memenuhi standar tertinggi.

"Di Belanda, para pelajar berada dalam lingkungan belajar internasional yang multikultur. Itu sudah pasti. Bukan cuma multibudaya dalam pergaulan antar sesama pelajarnya, tapi juga dosen-dosennya," ujar Koordinator Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono, kepada KOMPAS.com, Rabu (4/3/2015), usai pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Erasmus University, Rotterdam.

Indy mengakui, "kultur akademik" di Belanda sangat menguntungkan untuk pelajar Indonesia. Dosen-dosen di sini sangat egaliter.

Dia mencontohkan kisah mahasiswa Indonesia yang membutuhkan seorang profesor untuk menjadi pembimbing tesisnya. Saat dihubungi, si profesor tak sekalipun mengangkat telepon dan membalas pesannya. Hingga beberapa waktu kemudian, tak disangka oleh si mahasiswa, profesor itu menghubunginya. Rupanya, ia sedang sibuk mengajar saat ditelepon oleh mahasiswa itu.

"Beritahu kapan saya bisa menghubungi kamu agar saya bisa membantu masalah kamu," kata Indy, menuturkan cerita si mahasiswa.

Pengalaman tersebut rupanya juga dialami oleh Erika H Wijaya, mahasiswa double degree di HIS Erasmus Universiteit. Dia mengaku lebih enak kuliah dengan cara yang diberikan para dosen di kampus ini dibanding di Indonesia.

"Dosen di sini sangat cepat membalas email dan tak susah dikontak. Kita tidak disuapi terus dengan teori-teori di kelas, tapi malah lebih banyak berdiskusi. Kami diberikan jurnal ini dan itu yang jumlahnya banyak, lalu kami belajar sendiri. Sisanya kami berdiskusi dengan teman dan dosen," ujar mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akrab disapa Erik itu.

Menurut dia, dosen-dosen di kampusnya ini sangat terbuka. Mereka tak sungkan untuk berbagi hasil penelitiannya kepada mahasiswa dan memperkenalkan proyek yang sedang dikerjakan dan membahas dengan mahasiswanya.

"Afiliasi mereka ke lembaga-lembaga internasional, aksesnya luas sekali. Kami diberi banyak literature dan tinggal memilih yang kita butuhkan karena saking banyaknya," ujarnya.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.