Siapa Tokoh yang Berkontribusi Besar Terhadap Pendidikan di Indonesia?

Kompas.com - 09/10/2015, 07:27 WIB
Pendidikan nasional Indonesia. www.shutterstock.comPendidikan nasional Indonesia.
|
EditorLatief

Lebih dari itu, Cokroaminoto juga mendorong muridnya berpikir kritis. Dia memberi ruang eksplorasi ide tanpa batas sehingga anak didiknya terlatih untuk mampu melihat suatu hal dari bermacam-macam sudut pandang.

Tak mengherankan, dari tangan Cokroaminoto lahir tokoh-tokoh nasional yang meresapi ideologi berbeda, seperti Semaun yang sosialis, Kartosuwiryo seorang Islam fundamentalis, dan Soekarno seorang nasionalis.

Memberdayakan kaum hawa

Raden Ayu Lasminingrat lahir di Garut pada 1843, atau 36 tahun sebelum RA Kartini dilahirkan. Penulis dan sejarahwan Deddy Effendie menyebut Lasminingrat sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia. Selain menulis karyanya sendiri, dia juga banyak menterjemahkan buku-buku anak sekolah dari bahasa Belanda ke bahasa Sunda, baik menggunakan aksara Jawa maupun Latin.

Hal itu tidaklah aneh mengingat Lasminingrat memang sempat diasuh teman Belanda ayahnya, Levyson Norman. Dia pun menjadi perempuan pribumi satu-satunya yang mahir menulis dan berbahasa Belanda pada masanya.

Dalam buku Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, Mikihiro Moriyama mencatat, sejak kecil, Lasminingrat bercita-cita memajukan pendidikan kaum hawa. Lalu, setelah dipinang Bupati Garut RAA Wiratanudatar VIII, dia memilih pensiun dari dunia kesusastraan dan fokus kepada pendidikan perempuan.

Pada 1907, Lasminingrat mendirikan sekolah Keutamaan Istri. Sekolah ini dianggap cukup maju karena sudah menggunakan sistem kurikulum. Materi pembelajaran diarahkan pada keterampilan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan menjahit. Dia berharap, setelah menikah, muridnya telah pandai mengurus suami dan mendidik anak-anak.

Dalam kurun empat tahun, jumlah murid Keutamaan Istri tumbuh menjadi sekitar 200 orang. Lalu, 15 ruang kelas dibangun seluruh murid dapat tertampung. Pada 1913, sekolah ini bahkan Istri mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejarah juga mencatat, Lasminingrat adalah tokoh dibalik pendirian Sakola Istri asuhan Dewi Sartika. Jika Dewi Sartika disebut-sebut sebagai tokoh pendidikan, maka tak berlebihan jika Lasminingrat didaulat sebagai tokoh perempuan intelektual pertama Indonesia.

Bangun kualitas internasional

Perjuangan para perintis pendidikan belum berakhir. Bagi mantan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, pengembangan mutu pendidikan Indonesia tak pernah usai. Beragam program dan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi-organisasi pendidikan perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Saat menjabat sebagai presiden Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan di Asia Tenggara (SEAMEO) pada 2007, Bambang mencetuskan ide meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Saat itu, ambisinya adalah meningkatkan kualitas tiga pusat pelatihan guru ke taraf internasional.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.