Kompas.com - 11/10/2015, 09:10 WIB
|
EditorLatief

“Lembaga kami berupaya untuk mengantisipasi dua kasus ini dengan membangun karantina dan mengadakan pelatihan bagi pihak-pihak terkait agar mereka mampu melakukan penanganannya. Kami juga melakukan penelitian dan menyebarkan hasilnya sehingga bibit asing maupun microtoxin tidak berkembang lebih jauh,” Kata Direktur SEAMEO BIOTROP Dr Irdika Mansur pada Kompas.com, Minggu (4/10/2015).

Selain itu, BIOTROP pun menjalankan program income generation. Ini merupakan penelitian dan pengembangan teknologi sederhana berbasis biologi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Disebut juga argo industri dan budidaya strategis. Kami mengembangkan bibit-bibit tanaman bernilai tinggi sehingga petani bisa panen lebih banyak, misalnya dengan kultur jaringan. Contohnya, jika dulu impor, sekarang kita sudah menjadi pengekspor pisang cavendish,” ujar Irdika.

Teknologi ini juga menjadi usaha penanganan menyempitnya lahan pertanian di Indonesia. Alternatif selain argo industri adalah menggeser sawah-sawah ke dekat tambang yang lebih mudah mendapatkan sumber air dan lahannya sudah ditata.

Irdika melanjutkan, BIOTROP juga mendampingi usaha masyarakat dan menjembatani distribusi pasar. Penjualan diatur dengan menghubungkan petani dan pengumpul dengan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak.

Pusat penelitian BIOTROP yang berlokasi di Bogor terbuka bagi sekolah atau masyarakat umum. Di sana masyarakat bisa mendapatkan pelatihan dalam bidang kultur jaringan, pengembangbiakan tanaman, dan keterampilan lainnya

“Kami juga bersinergi dengan masyarakat umum, bahkan sampai arisan ibu-ibu agar teknologi ini bisa memancing mereka untuk lebih kreatif dan industri kita bertumbuh,” ujar Irdika.

Tidak hanya BIOTROP, SEAMEO juga memiliki pusat penelitian dalam bidang makanan dan nutrisi (SEAMEO RECFON). Lembaga ini mengidentifikasi tantangan dan mengembangkan solusi mengenai pangan dan gizi.

Shutterstock Ilustrasi

RECFON mencari jalan keluar mengenai kekurangan gizi sesuai dengan pola makan masyarakat lokal. Misalnya, kekurangan zat besi pada penduduk di Lombok maka RECFON akan mencari solusi memanfaatkan sumber pangan daerah tersebut.

“Karena kita tidak bisa menyamakan keunikan satu daerah dengan lainnya maka kami ingin membuat panduan umum gizi seimbang bagi masyarakat. Kegiatan ini bekerja sama dengan akademisi, dinas kesehatan, dan mitra di berbagai daerah,” kata Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr Umi Fahmida kepada Kompas.com, Selasa (6/10/2015).

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.