Kompas.com - 28/12/2015, 14:52 WIB
Bendera Indonesia berkibar di Sao Paulo, Brazil, dalam ajang WorldSkills Competition (WSC) pada 11-16 Agustus 2015. www.worldskills.orgBendera Indonesia berkibar di Sao Paulo, Brazil, dalam ajang WorldSkills Competition (WSC) pada 11-16 Agustus 2015.
|
EditorLatief

Tahun ini Indonesia berhasil membawa pulang dua medali kemenangan. Hari Sunarto menyumbang satu medali perak untuk kategori skill "Plastic Die Engineering". Adapun satu medali perunggu diraih Rifki Yanto pada kategori "Prototype Modelling".

Perlu diasah

Kemenangan tersebut bukan tanpa perjuangan. Kedua karyawan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) itu telah digembleng selama kurang lebih 18 bulan sebelum kompetisi dimulai.

"Rata-rata, level anak SMK kita masih jauh untuk masuk ke Worldskills, jauh sekali. Itu baru skill, belum lagi fisik dan mental. Itulah gunanya kita gembleng dulu," kata Agung Satriawan, pembimbing atlet WSC di Toyota Indonesia Institute Division (TIIN).

Khusus dua kategori di atas, Kemendikbud sengaja melakukan kerja sama dengan TMMIN dalam proses pemilihan dan pelatihan atlet. Hal itu diperlukan karena TMMIN merupakan satu-satunya industri yang memiliki teknologi pelatihan Plastic Die Engineering dan Prototype Modelling.

"Industri swasta lain juga ikut berpartisipasi, tapi untuk kategori lain," kata Mo Daniel Setiawan, Manager TIIN.

Motivasi awal TMMIN berpartisipasi dalam WSC adalah untuk menguji kemampuan dalam mengembangkan sumber daya manusia. Lebih jauh, menurut Bob Azam, Direktur Administrasi TMMIN, poin yang sebenarnya dikompetisikan bagi TMMIN dalam WSC adalah sistem manajemen di balik para atlet ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami sebagai perusahaan yang memang fokus strateginya di pengembangan SDM harus terus menguji kemampuan dalam mengembangkan potensi SDM. Tidak hanya sesama entitas perusahaan, tapi juga (dalam skala) negara," ujar Bob.

Meski begitu, mempersiapkan atlet untuk bertanding secara profesional di tingkat dunia tidaklah mudah. Terlebih lagi WSC memiliki batasan umur sehingga atlet harus diseleksi dari karyawan baru yang tentu pengalaman praktiknya belum mencukupi.

"Kita minta mereka ulang terus (pelatihannya). Model yang sama kita modifikasi terus sampai sesusah mungkin. (Satu model) bisa sampai 100 kali bikin, sampai ukurannya pas. Kita juga tetap menggunakan waktu yang sama seperti di Worldskills, yaitu 4 hari (per satu kali praktik)," kata Agung.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.