Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Sejarah Institusi Pendidikan di Nusantara (2)

Kompas.com - 23/04/2018, 14:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

OSVIA didirikan pada tahun 1879 di Bandung. Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan sekolah yang serupa yaitu MBS (Middlebare Besture School) di Malang. Sekarang sekolah ini berubah nama menjadi IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri) yang ada di Jatinangor, Bandung, Jawa Barat dan IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) yang ada di Jakarta.

Setelah masa kolonial berakhir, sistem pendidikan kolonial ini banyak diadaptasi oleh pemerintah Republik Indonesia menjadi sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang setara, sebagai syarat untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi (Universitas). Sistem jenjang institusi pendidikan semacam ini juga dipakai dibanyak negara, sehingga seharusnya secara institusional seharusnya tidak lagi menjadi masalah.

Masalah-masalah terkait pendidikan dan kualitas pengetahuan anak muncul bukan karena sistemnya tapi karena pengambil kebijakan dan orang-orang yang ada didalamnya, apakah benar-benar mengimplementasikan pendidikan dan pengajaran dengan baik. Atau jangan-jangan seperti yang saya pernah tuliskan disini dua minggu yang lalu, justru mengkhianati visi pendidikan nasional itu sendiri.

Seharusnya pendidikan nasional itu seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara yaitu untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa), tapi yang terjadi adalah sekolah sebagai sarana pemuas nafsu materialisme.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
NASIONAL
Isi UU IKN
Isi UU IKN
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.