Sarjana Melimpah, tapi Perusahaan Sulit Dapat Tenaga Kerja Siap Pakai - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Prasetiya Mulya

Sarjana Melimpah, tapi Perusahaan Sulit Dapat Tenaga Kerja Siap Pakai

Kompas.com - 06/09/2018, 13:14 WIB
Ilustrasi mencari kerja di situs pencari kerjaSHUTTER STOCK Ilustrasi mencari kerja di situs pencari kerja

KOMPAS.com - Pernah melihat iklan lowongan kerja salah satu perusahaan untuk posisi tertentu yang selalu muncul terus-menerus di situs pencari kerja?

Jika iya, bisa jadi perusahaan tersebut belum menemukan kandidat tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.

Meskipun jumlah tenaga kerja Indonesia melimpah, tetapi itu bukanlah jaminan perusahaan bisa mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai.

Hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 yang dipublikasi pada Maret 2016 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi siap pakai.

Padahal, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sudah begitu, jumlah angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

"Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Namun, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi," ujar Consultant Director Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim seperti dimuat Kompas.com, Rabu (20/4/2016).

Usut punya usut, keadaan itu terjadi karena mereka tidak memiliki skill yang dibutuhkan industri saat ini. Salah satu penyebabnya datang dari kurikulum pada kebanyakan perguruan tinggi yang sudah tidak sesuai lagi untuk menjawab kebutuhan industri.

Pakar pendidikan Indonesia Arief Rachman mengamini hal tersebut. Untuk itu, ia berharap pemerintah dan perguruan tinggi bisa mengajak pihak swasta untuk menyusun kurikulum yang tepat.

"Kurikulum harus dibentuk juga oleh teman-teman dari swasta, sebab (dari swasta) kami jadi tahu pengalaman di lapangan dan itu merupakan guru paling hebat bagi mahasiswa," ujar dia.

Kurikulum harus selalu diperbaharui

Berangkat dari permasalahan tersebut, kini beberapa universitas di Indonesia sudah mulai melibatkan sektor swasta untuk pengembangan kurikulumnya.

Salah satunya adalah Universitas Prasetiya Mulya. Lembaga pendidikan ini dari kali pertama menyusun kurikulum sudah melibatkan pakar industri, pelaku usaha, bahkan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan terkait.

Kepala Program Studi S1 Renewable Energy Engineering Universitas Prasetiya Mulya, Indra Buana mengatakan, pihaknya juga secara berkelanjutan terus memperbaharui kurikulum yang ada di jurusannya.

"Kami secara perodik, paling cepat 2 tahun sekali selalu mengevaluasi kurikulum untuk menyesuaikan dengan perkembangan industri," kata dia, Senin (3/9/2018).

Adapun untuk mengenalkan mahasiswa terhadap kebutuhan industri masa kini, mereka diwajibkan mengikuti magang dua kali selama kuliah. Pertama saat semester 1 dengan jangka waktu satu bulan dan kedua pada semester 5 dengan jangka waktu yang disesuaikan dengan jadwal kuliah masing-masing jurusan.

CEO Cisarua Mountain Dairy (Cimory) menjadi dosen tamu di Universitas Prasetiya Mulya Dok Prasetiya Mulya CEO Cisarua Mountain Dairy (Cimory) menjadi dosen tamu di Universitas Prasetiya Mulya
Agar peserta didik mendapat wawasan mengenai perkembangan terbaru di industri terkait, pihak kampus pun sering mengundang pelaku industri untuk mengajar sebagai dosen tamu.

Manager Program Studi S1 Branding Universitas Prasetiya Mulya Fredy Utama mengatakan, tujuan mengundang dosen tamu mengajar adalah supaya mahasiswa tahu bagaimana cara untuk mengaplikasi ilmu yang sudah diperoleh di bangku kuliah.

"Dengan memberikan pemaparan apa yang terjadi sesungguhnya di industri akan memberikan banyak sekali insight bagi mahasiswa sebagai bekalnya kelak ketika menjadi profesional atau pun menjadi pebisnis," kata Fredy.

Lebih jauh soal pengaplikasian ilmu, lanjut Fredy, kampus ini memiliki program Project Based Learning yang menjadi final project mahasiswa. Melalui program tersebut mahasiswa diharuskan menyelesaikan permasalahan suatu perusahaan.

Contohnya seperti Project Based Learning S1 Branding Prasetiya Mulya dengan Taman Impian Jaya Ancol Januari 2017 silam. Saat itu, Taman Impian Jaya Ancol membutuhkan ide-ide kekinian yang membawa warna baru untuk memasarkan kawasan wisata terpadu ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa semester tujuh program S1 Branding harus mempresentasikan hasil analisis marketing Taman Impian Jaya Ancol dari segi consumer insight, consumer journey, competitor dan saran aktivitas marketing yang menarik.

Hal yang sama terjadi pula di School of Applied STEM (Science Technology Engineering & Mathematics) Prasetiya Mulya. Mahasiswa di sini diwajibkan membuat final project berupa prototipe bisnis berbasis sains berdasarkan masalah yang ada di sekitar lingkungan masyarakat. 

Project semester akhir mahasiswa tersebut kemudian dipamerkan dalam ajang STEM Student Exhibition. Di ajang ini mereka mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan para praktisi industri.

Nah, kalau sudah begitu lulusan yang dihasilkan harapannya akan sesuai dengan kebutuhan industri. Masalah perusahaan sulit mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai lambat laun bisa terselesaikan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: