"Pengasuhan Lebay" Abaikan Potensi Anak, Ini Ciri-Cirinya

Kompas.com - 19/09/2018, 23:05 WIB
Ilustrasi anak kecil Ilustrasi anak kecil

KOMPAS.com - Banyak orang tua mengkhawatirkan prestasi yang diraih anak atau khawatir terhadap masa depan anak saat dewasa. Tidak jarang sikap ini secara tidak sadar diikuti dengan membandingkan dengan anak orang lain.

Dengan kekhawatiran itu, orang tua seringkali menerapkan berbagai strategi dan stimulasi melalui kursus-kursus serta kegiatan edukatif lainnya. Tujuannya, agar anak berprestasi sehingga diharapkan mampu memupus kekhawatiran orang tua.

“Ketika didapati anak tersebut tidak berhasil mencapai target atau prestasi yang diharapkan, orang tua kebingungan. Tidak jarang ia menambah berbagai kegiatan yang dianggap bisa meningkatkan prestasi, menyalahkan sekolah dan menganggap sekolah tidak mampu mendidik anaknya,” jelas Kepala Sekolah Dasar Olifant JogjakartaMariana Hastuti, seperti dikutip dari Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Baca juga: 5 Alasan Denmark jadi Acuan Sistem Pendidikan Dunia

Cara yang dilakukan orang tua itulah yang menurut Mariana disebut pola pengasuhan hyper parenting atau pola asuh lebay (berlebihan).

Mariana menjelaskan, pengertian hyper parenting merupakan usaha yang dianggap "baik" dan dilakukan orang tua dalam pola pengasuhan. Tujuannya untuk memberikan stimulasi "positif" kepada anak tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau kemampuan anak tersebut.

Ciri-ciri orang tua dengan pola hyper parenting 

Mariana memberikan ciri-ciri orangtua yang mulai dihinggapi "pola asuh lebay":

  • Menerapkan disiplin terlalu ketat pada anak dan kurang mempertimbangkan situasi yang sedang terjadi.
  • Selalu merasa khawatir dengan masa depan anak.
  • Menitikberatkan prestasi kognitif dan akademis pada anak.
  • Merasa cemas jika anaknya dianggap tidak sepintar anak-anak yang lain.
  • Membandingkan anak dengan teman-temannya
  • Selalu merasa kurang atas hasil pencapaian anak,
  • Merasa kecewa ketika anak tidak bisa memenuhi harapannya.

Efek penerapan hyper parenting

Menurut Mariana, ada efek penerapan hyper parenting bagi anak-anak, antara lain:

  • Anak merasakan kecemasan, mengalami gangguan fisik, menjadi sulit konsentrasi ketika belajar di sekolah.
  • Anak tidak memiliki empati dan menilai segala sesuatu dengan materi.
  • Anak tidak mau mengikuti kegiatan sekolah bahkan menolak untuk mengikuti berbagai kursus yang sudah dijalaninya.
  • Prestasi akademik anak bisa menurun, tidak mampu mengembangkan logika berpikir, tidak bisa mengekspresikan kehendak atau keinginan diri.
  • Anak akan terlihat kurang bahagia, murung, menyendiri di dalam kamar, menghindari relasi, atau bahkan membuat anak menjadi mudah marah.  

“Anak mungkin terlihat menikmati dan senang dengan aktifitas berlebih yang mereka jalani. Mungkin juga mereka sebenarnya tidak menikmati namun mereka tetap menjalaninya karena ingin menuruti orangtuanya,” ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X