Tutupnya Path dan Terancamnya Masa Depan Penulisan Sejarah

Kompas.com - 25/09/2018, 06:54 WIB
Ilustrasi penulisan sejarah THINKSTOCKS/MICHAIL PETROV 96Ilustrasi penulisan sejarah

Namun, bagi saya ada perspektif lain yang lebih merisaukan dari peristiwa tutupnya berbagai jejaring media sosial seperti Path, Friendster, dan Multiply ini. Yaitu, terkait terancamnya masa depan penulisan sejarah.

Sebagai seorang praktisi komunikasi, saya memang melihat berbagai unggahan pengguna media sosial sebagai sumber data untuk menganalisa kebiasaan dan preferensi netizen.

Akan tetapi, sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu sejarah secara akademis, saya juga melihat berbagai unggahan yang ada sebagai calon-calon sumber sejarah di masa depan.

Sebagai contoh sederhana untuk menjelaskan yang saya maksud, kita cukup mengingat tentang sosok dan pemikiran Kartini.

Saat kita mengenang cerita Kartini, banyak sumbernya yang berasal dari kumpulan surat yang ditulis Kartini, yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Jika tidak ditemukan surat-surat itu, mungkin sampai sekarang kita tidak akan kenal Kartini dan tidak akan memahami pemikiran dan visinya tentang pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Apabila surat di zaman Kartini merupakan salah satu medium bercerita yang utama, pada zaman sekarang sudah lebih banyak orang yang mencurahkan pemikirannya, menceritakan perjalanan hidupnya, serta mengunggah foto dan video kenangannya di layanan media sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Itu yang saya maksud dengan memandang berbagai unggahan netizen sebagai calon sumber sejarah.

Nantinya, 10 tahun atau 30 tahun atau bahkan 50 tahun lagi, saat seseorang ingin menulis sebuah peristiwa bersejarah pada 2018, misalnya, sudah hampir pasti dia perlu pula mencari dan mempelajari berbagai unggahan netizen di media sosial.

Media sosial dan sejarah

Persoalannya, bagaimana jika 50 tahun lagi seluruh data yang ada di media sosial sekarang sudah hilang, karena layanan media sosialnya sudah tutup seperti Path, Friendster, dan Multiply?

Hal itu berarti hilangnya berbagai data yang di masa depan sebenarnya dapat menjadi sumber yang sangat dibutuhkan dalam penulisan sejarah.

Mungkin juga sulit bagi kita sekarang untuk membayangkan bahwa layanan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan lainnya akan bisa berakhir. Namun, itu bukannya tidak mungkin terjadi.

Memang, Path dalam pengumuman penutupannya sudah mencantumkan cara untuk melakukan penyimpanan data bagi para penggunanya. Tapi saya sangsi akan banyak yang melakukannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X