Patria Gintings, MA
Praktisi Komunikasi

Praktisi dan konsultan komunikasi dengan pengalaman lebih dari 10 tahun; Komisaris di LM Brand Strategist; Lulusan S2 Leeds University Business School program studi Advertising & Marketing.

Tutupnya Path dan Terancamnya Masa Depan Penulisan Sejarah

Kompas.com - 25/09/2018, 06:54 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Selain itu, berbagai data di Friendster dan Multiply sendiri tampaknya sudah hilang selamanya.

Otomatis, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan semua data calon sumber sejarah yang ada di media sosial?

Jawaban teknisnya mungkin saat ini belum ada. Akan tetapi di era yang semakin serba digital, saya percaya solusi teknis atas masalah ini dapat ditemukan.

Demi catatan sejarah

Namun, agar jawabannya dapat segera ditemukan, harus ada dialog antara praktisi ilmu tentang masa lalu dengan praktisi ilmu tentang masa depan.

Harus ada diskusi antara sejarawan dengan para pakar teknologi informasi dan perusahaan jejaring media sosial, terkait mekanisme penyelamatan data unggahan para pengguna, untuk kepentingan penelitian sejarah di masa depan.

Bahkan, sebaiknya diskusi turut melibatkan pemerintah. Sebab, kalaupun berbagai data yang ada nantinya bisa diselamatkan saat layanan media sosialnya berhenti beroperasi, secara komersial sulit membayangkan ada pihak swasta yang secara sukarela menyimpan semua data tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, wajar jika ada harapan agar pemerintah turut berperan, seperti peran yang dilakukan oleh ANRI saat ini dalam menyimpan dan mengkurasi berbagai sumber sejarah dari masa kolonial Belanda.

Kita tentu ingin anak cucu cicit kita nantinya tetap dapat belajar dari sejarah. Belajar dari rangkaian peristiwa yang kita alami sekarang.

Agar itu dapat terjadi, tentu kita ingin di masa depan nanti para penulis sejarah memiliki akses terhadap berbagai sumber yang dapat menunjukkan seakurat mungkin apa yang sedang kita alami sekarang.

Memang ada jenis sumber-sumber lainnya yang akan dapat digunakan nanti untuk penulisan sejarah. Walaupun begitu, akan terasa aneh saat kita menulis sejarah dalam periode kehidupan manusia yang digital tanpa adanya sumber dari kehidupan digital kita sendiri.

Sudah saatnya masa lalu, masa kini, dan masa depan bertemu agar jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah di era digital.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.