Kolaborasi "Edutech" dan "Fintech" Mengurai Masalah Biaya Pendidikan - Kompas.com

Kolaborasi "Edutech" dan "Fintech" Mengurai Masalah Biaya Pendidikan

Kompas.com - 06/11/2018, 16:49 WIB
Kolaborasi Quipper Indonesia dan KoinWork mencari solusi problem pembiayaan pendidikan dalam diskusi yang digelar 11 November 2018 di Jakarta. Dok. Quipper Indonesia Kolaborasi Quipper Indonesia dan KoinWork mencari solusi problem pembiayaan pendidikan dalam diskusi yang digelar 11 November 2018 di Jakarta.

KOMPAS.com - Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) siswa melanjutkan pendidikan tinggi di Indonesia baru berkutat pada angka 31,5%.

Ironinya, Presiden Joko Widodo menyinggung tingginya angka kredit konsumtif Indonesia dalam rapat bersama para petinggi perbankan Maret 2018 lalu. Presiden kemudian memberikan arahan agar perbankan menyediakan program student loan untuk mengalihkan kredit konsumtif menjadi kredit produktif.

Program student loan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan angka partisipasi perguruan tinggi dan kualitas sumber daya manusia agar dapat bersaing di era industri 4.0.

Kolaborasi edutech dan fintech

Sebagai perusahaan edukasi teknologi, Quipper menyadari perekonomian menjadi salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia. Kurangnya Kemampuan ekonomi memaksa banyak pelajar putus sekolah atau sulit melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

Demikian halnya KoinWorks, perusahaan fintech lending terdaftar dan diawasi OJK juga telah meluncurkan layanan "KoinPintar" sejak awal 2017. "KoinPintar" merupakan salah satu layanan yang dapat dimanfaatkan sebagai opsi pembayaran pendidikan jenjang SMA ke atas dengan cicilan terjangkau bagi pengguna.

Baca juga: Kompak, 3 Edutech Indonesia Serukan Hal Ini di Edtech Asia Summit 2018

Pelajar yang mengajukan pendanaan dan telah disetujui dapat belajar dengan tenang karena dana akan langsung diberikan kepada institusi pendidikan bersangkutan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Quipper dan KoinWorks bekerjasama untuk mencari solusi dan berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mengatasi soal pembiayaan dalam melanjutkan pendidikan.

Pinjaman dana pendidikan 

Melalui kolaborasi ini, KoinPintar menawarkan opsi pembayaran pendidikan dengan cicilan bagi pengguna Quipper yang kesulitan dalam pendanaan untuk jenjang SMA ke atas.

“Saat ini Quipper telah mengunjungi lebih dari 3.000 sekolah di 33 provinsi dan telah digunakan lebih dari 5 juta pelajar di Indonesia. Melalui platform Quipper Campus, pengguna Quipper khususnya kelas 12 dapat mempertimbangkan pilihan kampus, jurusan dan biaya," ujar Tri Nuraini, Head of PR & Marketing Quipper Indonesia dalam diskusi yang digelar 11 November 2018 di Jakarta. 

Ia menambahkan, apabila ada kesulitan finansial siswa dapat mempertimbangkan opsi untuk mendapatkan pinjaman pembiayaan melalui "KoinPintar”.

Jonathan Bryan, Chief Marketing Officer KoinWorks menambahkan, “Kami senang dapat berkolaborasi dengan Quipper dalam mendukung program  Indonesia Pintar dari pemerintah dengan menghadirkan opsi pembayaran untuk pendidikan jenjang SMA ke atas melalui layanan KoinPintar."

Alternatif selain program Bidikmisi

Ia berharap, layanan alternatif pembayaran pendidikan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas.

Dalam diskusi turut hadir Mochamad Panji Pujasakti, Kepala Sub.Div Karir dan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti. Ia mengatakan, “Untuk menjangkau kalangan tidak mampu, pemerintah telah mengeluarkan program beasiswa bidik misi yang saat ini telah dinikmati oleh 400.000 mahasiswa."

Panji Pujasakti mengharapkan kerjasama Koinworks dan Quipper ini mampu memberikan opsi pembiayaan pendidikan melalui cicilan untuk program non beasiswa bagi pelajar yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

Sebagai perusahaan edukasi teknologi yang berkomitmen memberikan akses pendidikan berkualitas ke seluruh Indonesia, Quipper berharap kerjasama ini dapat membantu siswa menengah tingkat akhir dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi tanpa kesulitan pembiayaan.


Terkini Lainnya


Close Ads X