Dari Oxford University untuk Pemajuan Pendidikan di Tanah Papua

Kompas.com - 07/02/2019, 20:57 WIB
Oxford Society dan Dayalima menggelar forum Percakapan ke-46, kali ini mengangkat tema Life-Changing Education for East Indonesia di Thought Leadership Lounge, Jakarta (7/2/2019).Dok. Kompas.com Oxford Society dan Dayalima menggelar forum Percakapan ke-46, kali ini mengangkat tema Life-Changing Education for East Indonesia di Thought Leadership Lounge, Jakarta (7/2/2019).

KOMPAS.com - Oxford Society dan Dayalima menggelar forum "Percakapan" ke-46, kali ini mengangkat tema "Life-Changing Education for East Indonesia" di Thought Leadership Lounge, Jakarta (7/2/2019).

Para alumni University of Oxford asal Indonesia maupun lulusan berada di Indonesia yang tergabung dalam Oxford Society mencoba menemukan duduk soal dan juga solusi terhadap permasalahan pendidikan di wilayah Indonesia Timur, khususnya provinsi Papua dan Papua Barat.

Forum menghadirkan nara sumber Billy Mambrasar, putra Papua sekaligus kandidat program pascasarjana di University of Oxford. Selain itu, Prof. Soebroto, Guru Besar UI dan juga mantan Sekjen OPEC dan Menteri RI turut menjadi pembicara dalam forum diskusi ini.

Duduk soal pendidikan di Papua

"Yang menjadi permasalahan adalah bahwa kemampuan teknis yang dihasilkan pendidikan di sana (Papua) masih belum membuat lulusannya terserap di dunia kerja. Banyak sekali kebutuhan tenaga kerja di sana, namun kebutuhan tenaga kerja di sana berasal dari industri berteknologi tinggi," ujar Billy kepada Kompas.com di sela-sela acara.

Baca juga: Kisah Sekolah Bambu dan Titik Bangkit Pendidikan di Lombok

Billy menjelaskan industri teknologi tinggi ini membutuhkan lulusan tidak hanya dengan kemampuan teknis melainkan juga lulusan dengan kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan juga kemampuan entrepreneurship.

Permasalahan pendidikan di Papua yang pertama, Billy menyampaikan, disebabkan karena kurikulum yang kurang kontekstual dengan kondisi di Papua. "Pendekatan keilmuan yang sama untuk demografi yang berbeda seharusnya berbeda. Misalnya, ketika siswa Papua belajar agri bisnis namun yang menjadi bahan ajar menggunakan padi-padian, kurang kontekstual dengan kondisi Papua," ujarnya.

Mengejar ketertinggalan

Hal kedua yang menjadi duduk soal di sana adalah anak-anak Papua juga harus mengejar ketertinggalan dari sisi kualitas pendidikan dan juga akses informasi yang belum semasiv saat ini. "Mereka harus 'berlari sprint' untuk mengejar ketertinggalan ini. Dan untuk mempercepat ketertinggalan ini dibutuhkan dukungan dari sektor informal," tegas Billy.

Hal lain juga menjadi isu pokok pendidikan di Papua adalah soal kompetensi guru. "Angka absensi guru tertinggi di Indonesia. Kalau guru ada, kapasitas guru masih perlu ditingkatkan untuk menjawab tantangan itu," tambahnya.

Billy melihat, program sukarelawan pendidik yang dikirim ke Papua tidak menjawab permasalahan. "Banyak program ini pada akhirnya tidak berkelanjutan dan pedekatan kurang kontekstual," ujar lulusan Australian National University ini.

Melahirkan pemimpin lokal

Oxford Society dan Dayalima menggelar forum Percakapan ke-46, kali ini mengangkat tema Life-Changing Education for East Indonesia di Thought Leadership Lounge, Jakarta (7/2/2019).Dok. Kompas.com Oxford Society dan Dayalima menggelar forum Percakapan ke-46, kali ini mengangkat tema Life-Changing Education for East Indonesia di Thought Leadership Lounge, Jakarta (7/2/2019).

Atas dasar itulah kemudian Billy menginisiasi lahirnya "Kitong Bisa Foundation", lembaga yang mencoba melakukan perubahan paradigma pendidikan di Papua untuk melahirkan putra-putri daerah menjadi pemimpin dan penggerak ekonomi daerah.

"Menjadi inspirasi saja tidak cukup. Kita harus mendampingi mereka setiap hari. Inilah yang kami lakukan, terus melakukan pendampingan putra-putri Papua di manapun mereka menempuh pendidikan. Mereka akan menjadi stimulan dan change maker di komunitas mereka," tambahnya.

Billy mengharapkan pemajuan pendidikan ke depan di Papua lebih menekankan pendekatan yang kontekstual. "Jangan membawa definisi dari luar untuk menilai orang Papua. Selain infrastruktur, kini saatnya kita fokus kepada pembangunan manusia dan masyarakat itu sendiri sehigga kita bisa menjadi penggerak perubahan," harapnya.

Halaman:


Terkini Lainnya

Pasar Tanah Abang Kembali Menggeliat Setelah Tutup karena Rusuh 22 Mei

Pasar Tanah Abang Kembali Menggeliat Setelah Tutup karena Rusuh 22 Mei

Megapolitan
Prabowo-Sandiaga Siap Hadiri Sidang Pertama Gugatan Hasil Pilpres 2019 di MK

Prabowo-Sandiaga Siap Hadiri Sidang Pertama Gugatan Hasil Pilpres 2019 di MK

Megapolitan
Digugat Ratusan Peserta Pemilu di MK, KPU Siapkan Dua Hal Ini

Digugat Ratusan Peserta Pemilu di MK, KPU Siapkan Dua Hal Ini

Nasional
Tim Kuasa Hukum KPU Sebut Tak Ada Persiapan Khusus Hadapi Gugatan Prabowo-Sandiaga

Tim Kuasa Hukum KPU Sebut Tak Ada Persiapan Khusus Hadapi Gugatan Prabowo-Sandiaga

Nasional
Sandiaga: Bambang Widjojanto Punya Rekam Jejak yang Baik Tangani Gugatan di MK

Sandiaga: Bambang Widjojanto Punya Rekam Jejak yang Baik Tangani Gugatan di MK

Megapolitan
Tiket Mahal, Hanya Lion Air dan Sriwijaya yang Punya Extra Flight, Itu Pun Sekali Sehari...

Tiket Mahal, Hanya Lion Air dan Sriwijaya yang Punya Extra Flight, Itu Pun Sekali Sehari...

Regional
Jenazah Bayi Kembar dengan Tali Pusar Ditemukan Mengambang di Kali

Jenazah Bayi Kembar dengan Tali Pusar Ditemukan Mengambang di Kali

Regional
Tradisi Weh Huweh di Demak, Bebas Bertukar Makanan Saat Ramadhan...

Tradisi Weh Huweh di Demak, Bebas Bertukar Makanan Saat Ramadhan...

Regional
Selisih 16,9 Juta Suara, Kubu Jokowi Nilai Gugatan ke MK Sulit Ubah Hasil Pilpres

Selisih 16,9 Juta Suara, Kubu Jokowi Nilai Gugatan ke MK Sulit Ubah Hasil Pilpres

Nasional
Begini Desain Masjid Karya Ridwan Kamil yang Akan Dibangun di Gaza Palestina

Begini Desain Masjid Karya Ridwan Kamil yang Akan Dibangun di Gaza Palestina

Regional
Amnesty International Minta Kekerasan 22 Mei 2019 Diusut Tuntas

Amnesty International Minta Kekerasan 22 Mei 2019 Diusut Tuntas

Nasional
Polisi Perancis Buru Pelaku Serangan Bom di Lyon

Polisi Perancis Buru Pelaku Serangan Bom di Lyon

Internasional
Ramadhan, Ratusan Pemulung di Palopo Dapat Paket Sembako dari Polisi

Ramadhan, Ratusan Pemulung di Palopo Dapat Paket Sembako dari Polisi

Regional
Dua Kapal Perintis Berangkatkan 900 Pemudik Lewat Pelabuhan Ambon

Dua Kapal Perintis Berangkatkan 900 Pemudik Lewat Pelabuhan Ambon

Regional
Jenguk Korban Kerusuhan 22 Mei, Waketum Demokrat Minta Pengusutan Tuntas

Jenguk Korban Kerusuhan 22 Mei, Waketum Demokrat Minta Pengusutan Tuntas

Nasional

Close Ads X