Indy Hardono
Pemerhati pendidikan

Saat ini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta. Sebelumnya, penulis pernah menjadi Programme Coordinator di ASEAN Foundation. 

Ternyata, Kita Rindu Bung Hatta...

Kompas.com - 15/04/2019, 18:42 WIB
Pledoi berdurasi 3 jam disusun dan dibacakan Bung Hatta di Belanda pada waktu masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak. INDY HARDONOPledoi berdurasi 3 jam disusun dan dibacakan Bung Hatta di Belanda pada waktu masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak.
Editor Latief

"Bahwa penjajahan Belanda akan berakhir, bagiku itu pasti. Itu hanya soal waktu dan tidak soal ya atau tidak. Janganlah Nederland mensugesti dirinya sendiri, bahwa penjajahannya akan tetap sampai akhir zaman".

Sungguh suatu kecaman yang menggetarkan jiwa dan tikaman, langsung ke jantung pemerintah kolonial saat itu.

Pledoi berdurasi 3 jam itu disusun dan dibacakannya di Belanda pada waktu ia masih berusia 26 tahun! Eropa terpukau, tanah air tersentak, dan orang Indonesia mulai bergerak.

Pemimpin tidak cukup hanya memiliki ilmu. Dia juga harus pandai meramu dan meracik ilmu itu, bak seorang apoteker.

Banyak ahli hukum teritorial di negeri ini, tak terhitung ahli ekonomi dan pakar bidang aquaculture dan juga ahli pengindraan jarak jauh. Namun, kita belum memiliki "juru racik" yang piawai untuk membuat racikan yang mampu merubah predikat negara kepulauan menjadi negara maritim tangguh.

Bung Hatta adalah seorang peracik ilmu. Dia tak puas hanya dengan ilmu ekonomi yang digelutinya di Handelshogeschool atau Sekolah Tinggi Bisnis di Rotterdam yang sekarang dikenal sebagai Erasmus University of Rotterdam.

Jauh sebelum ada konsep intradisciplinary, interdisciplinary dan transdiciplinary, Bung Hatta sudah asyik berselancar dalam dunia multidisiplin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ya, gagasannya tentang ekonomi kerakyatan dan pengakuan kedaulatan dari Pemerintah Belanda pada 1949 adalah beberapa hasil "racikan" ilmu dan keahlian Hatta.

Baginya, memimpin adalah membangun demokrasi. Hatta juga seorang politikus. Tapi, ia berpolitik dengan cara seorang scholar.

Dia lebih percaya membangun demokrasi dengan kaderisasi melalui pendidikan. Tanpa gegap gempita orasi dan pawai, tak perlu bersandar pada dalil ketokohan.

Bagi Hatta demokrasi politik tak akan berjalan tanpa demokrasi ekonomi. Memimpin tidak harus selalu dikerumuni dan dielu-elukan rakyat. Namun, kebijakannya harus selalu prorakyat. Itulah arti sebenarnya Kedaulatan Rakyat.

Namun, pemimpin tidak menggagas ide usang. Dia mampu mentransformasikan bangsa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.