Indy Hardono
Pemerhati pendidikan

Saat ini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta. Sebelumnya, penulis pernah menjadi Programme Coordinator di ASEAN Foundation. 

Ternyata, Kita Rindu Bung Hatta...

Kompas.com - 15/04/2019, 18:42 WIB
Bagi Hatta demokrasi politik tak akan berjalan tanpa demokrasi ekonomi. Memimpin tidak harus selalu dikerumuni dan dielu-elukan rakyat. Namun, kebijakannya harus selalu prorakyat. Itulah arti sebenarnya Kedaulatan Rakyat. INDY HARDONOBagi Hatta demokrasi politik tak akan berjalan tanpa demokrasi ekonomi. Memimpin tidak harus selalu dikerumuni dan dielu-elukan rakyat. Namun, kebijakannya harus selalu prorakyat. Itulah arti sebenarnya Kedaulatan Rakyat.
Editor Latief

Bung Hatta hanya butuh 13 tahun setelah pledoi Indonesie Vrij dilantangkan di Den Haag untuk mengantar negeri ini kepada kemerdekaan. Buah pikirnya menuai berbagai karya monumental seperti naskah proklamasi dan landasan konstitusi ekonomi kerakyatan dalam UUD 1945.

Tutur yang tertatar

Lisan dan sikap Bung Hatta terjaga. Dia tidak menggebu dan bergemuruh, namun sanggup menujam kalbu.

Tutur kata Hatta lembut. Walau akhirnya ia undur diri dari pemerintahan, tak pernah ia mengkritik Soekarno secara frontal di muka publik.

Dia juga dikenal luwes berdiplomasi, bak seorang gelandang dalam kesebelasan. Namun, Bung Hatta dapat menyerang bak seorang striker dengan tikaman tajam narasinya.

Tulisan-tulisan dahsyatnya ada di Majalah Hindia Poetra yang dirintisnya dengan para pelajar Indonesia di Belanda. Itu adalah amunisi perjuangannya.

Ya, Hatta memang tak pernah berhenti menulis. Sepanjang hayatnya dia menulis. Tak kurang  dari 800 tulisan terhitung sejak ia berusia 16 tahun sampai 77 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejatinya, kita rindu Bung Hatta. Kita rindu figur multidimensi ini hidup kembali. Kita rindu pemimpin yang bijak ucap dan pikirnya. Yang tidak menggadang wacana, namun bicara nyata.
 
Kita rindu pemimpin yang jarak pandangnya melampaui zaman, yang mampu melihat Indonesia secara utuh, tak bersekat.

Hatta bukan suatu anomali. Dia adalah rujukan "sahih" bagi sebuah kepemimpinan nasional. Tak cukup satu zaman dan berpuluh buku untuk menggambarkan sosok, pemikiran dan nilai – nilai yang dianutnya. 

Reinkarnasi Hatta rasanya suatu kemustahilan. Putaran waktu tidak memberi kemewahan seorang Hatta dalam setiap generasi, apalagi di setiap gelar demokrasi 5 tahunan.

Namun, suatu masa nanti, Hatta dapat "terlahir" kembali. Bukan esok, entah kapan. Alamlah yang akan menentukan. Tugas kitalah yang akan menekan tombol pikir dan menghidupkan saklar naluri untuk mencari pemimpin sejati.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.