Kompas.com - 02/05/2019, 13:15 WIB
Sabda PS, Co-founder dan CEO Zenius Education Dok. Zenius EducationSabda PS, Co-founder dan CEO Zenius Education

Terakhir adalah penalaran relasi sebab-akibat (kausatif) dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Secara lebih spesifik, penalaran mengenai potensi konsekuensi akan muncul dari penggunaan informasi yang terdapat dalam suatu ilmu pengetahuan.

Jika seorang pembelajar terbiasa dalam mencari relasi sebab-akibat, maka ia akan lebih mempertimbangkan konsekuensi dari suatu cara atau tindakan.

Misalnya, ketika radikalisasi dalam terorisme menghendaki adanya eliminasi golongan tertentu melalui cara genosida.

Seorang pembelajar yang sudah paham akan penalaran ini kemungkinan akan berpikir berkali-kali untuk melakukannya, karena ia paham akan konsekuensi dari tindakan tersebut, yaitu perampasan akan hak hidup orang lain.

Soal HOTS dan penguatan nalar

Ketika kita sudah memahami aspek-aspek penalaran tadi, kita perlu merencanakan dan melaksanakan instrumen-instrumen yang mendukung penguatan nalar. Salah satunya adalah dengan menggunakan soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) di institusi pendidikan.

Higher Order Thinking Skills (HOTS) sedang santer dibicarakan para praktisi dan peserta pendidikan. Meski tergolong bukan hal baru, belakangan ini penggunaan akronim HOTS sebagai jargon dalam dunia pendidikan di Indonesia meningkat.

Bukan hanya dari penggunaan istilahnya saja, tapi penggunaan soal-soal bertipe HOTS itu sendiri semakin ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan menyediakan latihan menguasai soal-soal tipe HOTS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu apa korelasinya? Soal-soal tipe HOTS menuntut para pembelajar memiliki kemampuan nalar lebih tinggi. Dengan kemampuan nalar yang lebih tinggi, radikalisasi akan lebih sulit untuk melakukan penetrasi.

Para pembelajar, terutama siswa sekolah usia muda yang seringkali menjadi sasaran empuk golongan-golongan yang ingin melakukan radikalisasi, akan lebih terpapar dalam pembiasaan diri untuk menguatkan penalaran, baik itu penalaran terhadap proses, pemikiran kritis, relasi sebab-akibat, maupun jenis-jenis penalaran lainnya.

Oleh karena itu, saya dan tim sebagai praktisi dalam industri pendidikan menyambut baik kebijakan penggunaan soal HOTS sebagai tipe soal yang digunakan dalam pendidikan di Indonesia, terutama dalam ujian.

Penggunaan soal bertipe HOTS akan meningkatkan paparan para siswa sebagai pembelajar terhadap pembiasaan dalam bernalar, dan dalam jangka panjang dapat membentuk individu-individu yang memiliki nalar kuat, sehingga arus radikalisasi dapat ditekan, serta terorisme dapat tergerus secara perlahan.

Betul, secara perlahan, karena kita harus sadar bahwa dalam memberantas terorisme perlu ada berbagai proses. Salah satunya adalah pencegahan radikalisasi melalui penguatan nalar. Selamat Hari Pendidikan Nasional...

Penulis: Sabda PS, Co-founder dan CEO Zenius Education

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.