Ssstt..., Ini 5 Kebiasaan Belajar "Online" Siswa Indonesia

Kompas.com - 02/05/2019, 19:23 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Dalam rangka Gebyar Hari Pendidikan Nasional yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 26 April - 2 Mei 2019, Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah membangun SDM yang berkualitas dan berkarakter.

Bagaimana caranya? Dalam hal ini, Indonesia tengah berupaya meningkatkan kualitas SDM melalui perbaikan sistem pendidikan. Jika melirik sistem pendidikan berlaku di negara maju, ada banyak perbedaan yang dapat menjadi cermin mendongkrak kualitas pendidikan Indonesia.

Di Jepang, pemerintah menyiapkan pusat pengembangan profesi guru dengan sistem pendidikan yang sudah merata dan terkontrol sangat baik di tiap daerah. Sedangkan Finlandia menerapkan sistem sekolah tanpa memberikan pekerjaan rumah bagi siswa.

Baca juga: “Soft Skill”, Modal yang Tak Bisa Ditawar pada Era Disrupsi Digital

Hal tersebut dilakukan agar anak dapat mengeksplorasi hal lain di sekitarnya guna mengasah keterampilan soft skill setelah kegiatan sekolah usai. Jam sekolah yang berlaku pun tidak lebih dari 5 jam per hari.

Bagaimana sebenarnya kebiasaan belajar siswa di Indonesia dengan mengikuti sistem pendidikan yang berjalan saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Quipper Indonesia, platform edukasi berbasis teknologi, menghimpun data yang diperoleh dari siswa kelas 9 hingga kelas 12 pengguna aktif layanan Quipper pada tahun ajaran 2018/2019.

Berikut beberapa data menarik hasil penelitian tim Quipper Indonesia terkait kebiasaan belajar online siswa Indonesia:

Habiskan 7 jam sehari

 Jika dibandingkan dengan Finlandia, pelajar di Indonesia menghabiskan waktu 7 jam per hari di sekolah. Waktu tersebut belum termasuk kegiatan ekstrakurikuler, les tambahan, dan mengerjakan PR di rumah. Mengacu pada peringkat PISA Reading Score, Indonesia menduduki peringkat ke 64 dari 70 negara.

Meskipun telah melewati berbagai macam pergantian kurikulum, nyatanya sistem pendidikan yang berlaku selama ini masih belum memberikan output yang maksimal. Indeks  Pembangunan Manusia Indonesia berdasarkan data PBB tahun 2018  masih menempati urutan 116 dari 189 negara dalam kategori medium human development.

Matematika dianggap sulit

Dari 10 mata pelajaran pokok yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, Biologi, Sejarah, Ekonomi, Geografi dan Sosiologi, terbukti Matematika merupakan pelajaran paling banyak ditonton dengan presentasi 20 persen.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X