Kedokteran UPH Gelar Kuliah 3D, Menristek Dorong Kuliah Inovatif

Kompas.com - 28/06/2019, 23:35 WIB
Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Visual Learning ?The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe? di Cinemaxx Studio 3, Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (28/6/2019). Dok. Kompas.comKedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Visual Learning ?The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe? di Cinemaxx Studio 3, Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

KOMPAS.com - Kedokteran  Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Visual Learning “The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe” di Cinemaxx Studio 3, Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Dekan Fakultas Kedokteran UPH Eka J. Wahjoepramono memaparkan kuliah 3 Dimensi ( 3D) mengangkat topik ‘Eksplorasi Kehebatan Otak Manusia Dan Penyakit Yang Mengancam’ yang menjelaskan kehebatan otak yang memiliki sistem kerja yang kompleks dan menakjubkan.

Kuliah 3D bidang kedokteran ini diharapkan dapat menjadi praktik baik pembelajaran di perguruan tinggi berbasis teknologi untuk diterapkan di perguruan tinggi lain menggunakan teknologi inovatif seperti media digital, teknologi Virtual Reality ( VR), Augmented Reality (AI), dan Artificial Intelligence (AI).

Praktik baik pembelajaran

“Ini adalah satu contoh metode perkuliahaan yang dikembangkan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH) khususnya di bidang kedokteran," ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Menristekdikti) Mohammad Nasir usai saat menyaksikan kuliah berbasis 3D tersebut.

Ia menambahkan kuliah yang sudah menggunakan Artificial Intellingence (AI) atau kecerdasan buatan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) harus didorong terus supaya mahasiswa mendapatkan proses pembelajaran yang sempurna.

Menteri Nasir mengungkapkan bahwa selama ini biasanya dosen membaca kemampuan hanya 80 persen, maka hanya bisa diserap 40 persen, tetapi dengan metode pembelajaran ini kita bisa serap 100 persen dengan baik.

Metode seperti ini bisa kita kembangkan secara keseluruhan dan tidak hanya di bidang kesehatan saja, harus bisa diseluruh bidang lainnya.

“Kalau metode ini sudah dikembangkan dalam bentuk film tiga dimensi (3D), seharusnya bisa dikembangkan lagi dalam metode online dan saya rasa akan jauh lebih baik ke depannya,” tutur Nasir.

Metode pembelajaran inovatif

Menristekdikti saat memberikan sambutan dalam acara yang digelar Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH): Visual Learning The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe di Cinemaxx Studio 3, Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (28/6/2019).Dok. Kompas.com Menristekdikti saat memberikan sambutan dalam acara yang digelar Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH): Visual Learning The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe di Cinemaxx Studio 3, Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Menteri Nasir menambahkan, metode pembelajaran seperti ini bisa membuat mahasiswa tidak merasa kesulitan dalam menyerap materi yang sulit sekalipun dengan metode pembelajaran yang sangat sederhana.

Menteri Nasir juga mengimbau kepada pimpinan perguruan tinggi lain untuk mulai bergerak melakukan metode pembalajaran yang baru dan inovatif ditengah perkembangan Revolusi Industri 4.0 yang sangat ini sedang kita hadapi.

“Saya rasa perguruan tinggi harus melakukannya, kalau kita tidak punya fasilitasnya karena biaya yang sangat tinggi, untuk itu saya selalu sampaikan untuk perguruan tinggi agar melakukan kolaborasi. Kalau tidak dengan kolaborasi rasanya itu akan sulit untuk dikembangkan,” tambah Nasir.

Dirinya juga mengatakan, Kemenristekdikti juga sudah menerbitkan peraturan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk mengembangkan metode pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memudahkan akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Pembelajaran 3D bedah syaraf

Dalam kesempatan ini Eka juga menjelaskan berbagai kasus yang pernah ia tangani serta pemaparan penyebab dan beragam jenis penyakit yang menyebabkan kerusakan otak.

Baca juga: Di UPH, Menristekdikti Tekankan Pentingnya Riset dan Daya Saing Bangsa

Eka juga berbagi cara teknik bedah saraf yang ia lakukan dalam menangani kasus tersebut. Tentunya penjelasan dilengkapi dengan video 3D bedah saraf yang ia lakukan, sehingga para peserta seakan-akan menyaksikan secara langsung proses bedah saraf tersebut.

Dari seluruh kuliah umum ini, satu hal yang menjadi fokus bagi Eka mengapa kuliah ini menjadi begitu penting.

Selain itu bagi semua calon dokter, kuliah umum ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tapi untuk memberi stimulus bagi para mahasiswa dapat mandiri untuk lebih meng-eksplorasi otak dan mampu menjadi dokter yang berkualitas.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X