UMN Gelar Konferensi "Gambar Bergerak" Pertama di Indonesia

Kompas.com - 02/07/2019, 22:26 WIB
UMN menggelar International Moving Image Cultures Conference (IMOVICCON) 2019 yang merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia tentang fenomena budaya ?gambar bergerak? di Kampus UMN, Serpong (2-3/7/2019). DOK. UMNUMN menggelar International Moving Image Cultures Conference (IMOVICCON) 2019 yang merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia tentang fenomena budaya ?gambar bergerak? di Kampus UMN, Serpong (2-3/7/2019).

KOMPAS.com -  Universitas Multimedia Nusantara ( UMN) menggelar "International Moving Image Cultures Conference (IMOVICCON) 2019" yang merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia tentang fenomena budaya ‘gambar bergerak’.

Konferensi "moving image" tahun ini mengangkat tema "Small Screen Culture and Digital Society" dan menjadi tanggapan terhadap perkembangan teknologi yang membawa masyarakat global beralih ke dunia digital sehingga membawa pengaruh besar dalam seni bercerita atau storytelling.

Wakil Rektor II UMN Andrey Andoko dalam kesempatan sambutan pembukaan IMOVICCON 2019 di Lecture Hall UMN (2/7/19) menerangkan teknologi digital telah memberikan dampak dalam kehidupan manusia.

Baca juga: Wisuda XV UMN: Manusia Pembelajar Menjawab Tantangan Era Maha Data

"Media elektronik seperti televisi juga akan mengalami disrupsi, mengingat jumlah penontonnya yang mengalami stagnasi. Inilah era di mana kita bisa mengeksplor small screen," tegas Andrey.

Tantangan era "layar kecil"

“Pertumbuhan smart phone technology (small screen) tidak hanya terjadi pada generasi milenial melainkan juga generasi alfa. Inilah tantangan kita di industri media. Bagaimana caranya memproduksi konten yang berkualitas, memiliki nilai informasi dan juga hiburan. Dalam hal ini, kita tidak hanya bicara konten melainkan juga menghasilkan revenue,” terang Andrey dalam sambutan. 

Sementara itu, salah satu pembicara utama Viola Lasmana, Ph.D. dari University of Southern California, Amerika Serikat memaparkan penelitiannya yang bertajuk “Analog Amateurism” di mana small screen culture dan digital society menjadi bahasannya.

Viola memberikan contoh kasus “The Quipu Project”. Proyek ini adalah film dokumenter tentang wanita dan pria yang disterilisasi di Peru pada pertengahan 1990-an. Dua puluh tahun kemudian, mereka masih mencari keadilan.

“Dengan menggunakan telepon dan web interface yang dikembangkan secara khusus, kami bekerja dengan beberapa orang yang terkena dampak. Mereka dapat menceritakan kisahnya dengan kata-kata mereka sendiri. Kemudian, orang-orang dari segala penjuru dunia dapat memberikan semangat kepada mereka (survivor),” papar Viola.

Viola menambahkan, dengan fasilitas web interface, survivor akan merasa didengarkan dan kisah mereka dapat menjadi pembicaraan global. Web tersebut juga sudah menggunakan fitur penerjemah ke bahasa lokal agar dipahami survivor, namun tetap menggunakan subtitle Bahasa Inggris agar dipahami oleh masyarakat dunia.

Konferensi ilmiah pertama di Indonesia

Turut hadir sebagai pembicara Gietty Tambunan dari Universitas Indonesia. Peserta presenter konferensi berasal dari berbagai insitusi pendidikan di Tangerang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Australia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X