Inovasi “Sinting” Mahasiswa Undip Ubah Kebisingan Jadi Energi Listrik

Kompas.com - 20/07/2019, 20:19 WIB
Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro yang menciptakan alat bernama Sound Energy Harvesting (Sinting) yang bisa mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik. Dok. Universitas DiponegoroTiga mahasiswa Universitas Diponegoro yang menciptakan alat bernama Sound Energy Harvesting (Sinting) yang bisa mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik.

KOMPAS.com – Berawal dari kebisingan di bandara yang sebelumnya dibiarkan begitu saja, tiga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menciptakan alat yang dapat mengubah kebisingan itu menjadi sesuatu bermanfaat.

Ketiga mahasiswa itu Rifki Rokhanudin, Ragil Adi Nugroho, dan Yudha Cindy Pratama membuat penemuan alat mengonversi kebisingan di bandara menjadi energi listrik dan diberi nama Sound Energy Harvesting (Sinting).

Seperti dipublikasikan laman resmi Undip, Kamis (17/7/2019), alat tersebut dirancang menggunakan prinsip kerja induksi elektromagnetik, seperti yang diterapkan dalam mikrofon.

Namun, mikrofon hanya mampu menghasilkan arus sangat kecil. Maka dari itu, Sinting dirancang dengan mengikutsertakan teknologi tambahan sehingga arus listrik dihasilkan bisa lebih kuat.

Baca juga: Inovasi Mahasiswa Untidar, Kulit Kacang sebagai Prebiotik

Cara kerja alat itu yakni menangkap kebisingan melalui reflektor parabola kemudian difokuskan pada sistem tranduser yang memicu terjadinya induksi elektromagnetik yang kemudian menghasilkan energi listrik.

Tegangan dihasilkan dari alat ini mampu mencapai 11,14 volt pada intensitas suara dengan kebisingan sebesar 108,4 dBA.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Alat yang diberi nama Sound Energy Harvesting (Sinting).Dok. Universitas Diponegoro Alat yang diberi nama Sound Energy Harvesting (Sinting).

Ketiga mahasiswa tersebut membutuhkan waktu lebih kurang tiga bulan merancang Sinting. Proses dilakukan di Laboratorium Fisika Elektronika dan Instrumentasi Undip di bawah bimbingan dosen Catur Edi Widodo.

Alat itu diharapkan bisa dikembangkan lebih lanjut dalam skala implementasi dan dipasang di sejumlah bandara di Indonesia. Alat tersebut dirancang melalui hibah penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.