Medsos dan Game Online Masih Jadi Musuh Besar Penguatan Literasi

Kompas.com - 26/07/2019, 23:48 WIB
Direktur PSMA Purwadi saat mengunjungi salah satu stan pameran dalam Festival Literasi Siswa (FLS) yang digelar di Gedung Kemendikbud Jakarta, 26-29 Juli 2019. DOK. DIREKTORAT PSMADirektur PSMA Purwadi saat mengunjungi salah satu stan pameran dalam Festival Literasi Siswa (FLS) yang digelar di Gedung Kemendikbud Jakarta, 26-29 Juli 2019.

KOMPAS.com - Media sosial dan game online. Dua hal ini nampaknya masih menjadi 'musuh besar' dalam penguatan minat baca dan kemampuan literasi remaja saat ini, termasuk di kalangan siswa SMA.

Hal ini tergambar dalam pengalaman beberapa siswa yang turut hadir dalam pembukaan "Festival Literasi Siswa (FLS) 2019" yang dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Plaza Insani, Gedung Kemendikbud, Jakarta, hari ini (26/7/2019).

FLS 2019 digelar dalam berbagai bentuk kegiatan seperti pameran, workshop, festival hingga lomba dan akan berlangsung 26-29 Juli 2019.

"Acara FLS ini sudah memasuki tahun ke-3. Gerakan Literasi ini merupakan cara untuk memotivasi agar gerakan literasi dapat berjalan dengan baik," ujar Didik Suhardi Sekjen Kemendikbud di awal sambutan. 

Peluang dan tantangan teknologi

Bagas dan Rasyid siswa SMAN 24 Jakarta menceritakan tantangan minat baca justru banyak berasal dari kemajuan teknologi: internet.

Baca juga: Dapatkah Internet Jadi Solusi Meningkatkan Literasi Indonesia?

"Menurut saya tantangan minat baca generasi kita dari kemajuan teknologi, dari HP. Banyak main game jadi ga terlalu suka baca," jelas Rasyid. Bagas menambahkan meski banyak pengetahuan juga bisa diperoleh lewat internet namun banyak siswa lebih tergoda untuk mencari hiburan di dunia online.

Hal senada disampaikan April dan Ajeng siswi kelas 11 SMAN 78 Jakarta. "Terasa banget godaannya untuk main game dan main medsos," ujar April. 

Namun tidak dipungkiri, dunia online juga turut memberi dampak positif bagi para siswa untuk menunjang pembelajaran. "Ada banyak ilmu yang bisa diperoleh dari internet. Misal untuk merakit dan melakukan programming robot misalnya," jelas Bagas sambil memperlihatkan robot hasil rakitan yang dipamerkan di stand SMAN 24 Jakarta.

"Kita juga sering mencari materi-materi pembelajaran dari internet. Tidak jarang malah guru-guru untuk meminta kita mencari bahan-bahan tambahan dari internet dan tidak hanya mengandalkan buku cetak pegangan sehingga wawasannya bisa lebih luas," tambah April menceritakan pengalaman penggunaan teknologi dalam kelas di sekolahnya SMAN 78 Jakarta.

Seni dan narasi digital

Hal inilah yang kemudian mendorong Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) dalam FLS 2019 mewadahi pengembangan literasi siswa SMA dalam ranah literasi digital.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.