Kembangkan Sastra dan Budaya Indonesia, JILF 2019 Digelar di TIM

Kompas.com - 21/08/2019, 12:40 WIB
Pembukaan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019). Dok. KemendikbudPembukaan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (20/8/2019).

KOMPAS.com – Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan Jakarta International Literary Festival (JILF) pada 20 sampai 24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

JILF 2019 mengambil tema “Pagar” yang mencerminkan semakin leburnya batasan-batasan dunia. Pagar yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah adalah sesuatu yang harus dilintasi jika kita ingin mengenal dan dikenal oleh yang lain.

Dalam sambutannya, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Sri Hartini mengatakan, meski nama JILF berbau internasional, tetapi perhelatan ini didedikasikan untuk pengembangan dan kemajuan di bidang sastra dan kebudayaan Indonesia pada umumnya.

Menurut dia, sastra merupakan produk peradaban yang tidak mungkin dapat dipagari dengan sekat atau batas-batas nasionalitas negara, apalagi batas administratif.

Ekosistem global

“Dalam konteks itulah maka karya sastra tidak lagi hanya menjadi milik negara atau entitas di mana karya sastra itu lahir. Ia adalah milik masyarakat yang jauh lebih luas, terlebih dalam era globalisasi saat ini,” ucap Sri Hartini pada pembukaan JILF 2019 di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Baca juga: Mendorong Generasi Milenial Jatuh Hati Lagi pada Literasi Baca

Dia menambahkan, sastra adalah ekosistem global. Seperti tercantum dalam Pasal 4 huruf (j) UU Pemajuan Kebudayaan, disebutkan secara eksplisit bahwa tujuan kemajuan adalah untuk mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.

Hal itu semakin menunjukkan bahwa karya sastra dapat berinteraksi dengan lingkup yang lebih luas berskala global.

Bertindak selaku kurator dalam JILF 2019 adalah Eka kurniawan, Isyana Artharini, dan Yusi Avianto Pareanom. Ada pula sejumlah pihak yang diundang, yakni 55 penulis, 26 penerbit, dan 21 komunitas sastra.

Mereka berasal dari berbagai negara, yaitu Afrika Selatan, Botswana, Filipina, India, Indonesia, Inggis, Jerman, Malaysia, Mauritius, Palestina, Singapura, Siprus, Somalia, Thailand, dan Turki.

“JILF menghadirkan puluhan sastrawan dari dalam dan luar negeri. Saya berharap mereka dapat memberikan kontribusi dan menginspirasi kita semua dalam memajukan sastra dan memajukan kebudayaan pada umumnya,” imbuh Sri Hartini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tertarik Jadi Dosen? CPNS 2019 Kemendikbud Buka 1.891 Formasi

Tertarik Jadi Dosen? CPNS 2019 Kemendikbud Buka 1.891 Formasi

Edukasi
Angkie Yudistia, Staf Khusus Jokowi, Kisah Titik Bangkit di Kampus dan Perjuangan yang Belum Selesai

Angkie Yudistia, Staf Khusus Jokowi, Kisah Titik Bangkit di Kampus dan Perjuangan yang Belum Selesai

Edukasi
'Link and Match' Pendidikan-Industri Butuh Perencanaan dan Penyesuaian Kurikulum

"Link and Match" Pendidikan-Industri Butuh Perencanaan dan Penyesuaian Kurikulum

Edukasi
Krisis Dunia Pendidikan, Satu Pesan dari Bank Dunia...

Krisis Dunia Pendidikan, Satu Pesan dari Bank Dunia...

Edukasi
Pasar Digital Kian Menjanjikan, Binus Malang Kini Fokus Ciptakan Entreprenuer Berbasis Digital

Pasar Digital Kian Menjanjikan, Binus Malang Kini Fokus Ciptakan Entreprenuer Berbasis Digital

BrandzView
LP3I: Kompetensi dan Adaptasi Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Vokasi

LP3I: Kompetensi dan Adaptasi Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Vokasi

Edukasi
'We The Teacher': Infrastruktur dan Materi Pembelajaran Masih Jadi Kendala di Daerah 3T

"We The Teacher": Infrastruktur dan Materi Pembelajaran Masih Jadi Kendala di Daerah 3T

Edukasi
Kompasianival 2019: Ngomongin Podcast hingga Peluang Join KG Media

Kompasianival 2019: Ngomongin Podcast hingga Peluang Join KG Media

Edukasi
Daftar Lengkap 100 Universitas Terbaik Kinerja Penelitian, Berapa Peringkat Kampusmu?

Daftar Lengkap 100 Universitas Terbaik Kinerja Penelitian, Berapa Peringkat Kampusmu?

Edukasi
5 Modul Latihan TKD CPNS 2019 Paling Banyak Dicari

5 Modul Latihan TKD CPNS 2019 Paling Banyak Dicari

Edukasi
Sepertiga Anak Usia 10 Tahun Indonesia Tak Mampu Baca dan Pahami Cerita Sederhana

Sepertiga Anak Usia 10 Tahun Indonesia Tak Mampu Baca dan Pahami Cerita Sederhana

Edukasi
Menristek: Jumlah Pengelolaan Dana Riset Ditentukan Penilaian Kinerja

Menristek: Jumlah Pengelolaan Dana Riset Ditentukan Penilaian Kinerja

Edukasi
47 Universitas Terbaik Bidang Penelitian Versi Kemenristek

47 Universitas Terbaik Bidang Penelitian Versi Kemenristek

Edukasi
Berdayakan Guru, Zenius dan We The Teachers Distribusikan Materi Belajar Digital Gratis

Berdayakan Guru, Zenius dan We The Teachers Distribusikan Materi Belajar Digital Gratis

Edukasi
Benarkah Peran Guru Tidak Akan Terganti pada Era Revolusi Industri 4.0?

Benarkah Peran Guru Tidak Akan Terganti pada Era Revolusi Industri 4.0?

Edukasi
Close Ads X