Kemendikbud Siap Gelar Pekan Kebudayaan Nasional Bulan Oktober

Kompas.com - 14/09/2019, 15:54 WIB
Taklimat Media terkait Pelaksanaan Pekan Kebudayaan Nasional pada Jumat, 13 September 2019, di Kompleks Kemendikbud, Jakarta. Dok. KemendikbudTaklimat Media terkait Pelaksanaan Pekan Kebudayaan Nasional pada Jumat, 13 September 2019, di Kompleks Kemendikbud, Jakarta.

Tingkatkan animo masyarakat

Untuk pawai budaya, kegiatan ini menjadi acara utama dinanti karena diikuti sekitar 10.000 peserta yang menampilkan Ritus Nyawiji, Suara Anak Bangsa dan Rampak Nusantara (640 GSMS), 200 penari Indonesia Permai, dan variasi baris-berbaris.

Terkait pergelaran itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Sri Hartini menuturkan, Direktorat Jenderal Kebudayaan telah mempersiapkan sejumlah aktivitas, baik secara substansi maupun teknis pengorganisasian, yang sudah disusun sejak awal 2019.

“Selama awal persiapan, berbagai kegiatan pendukungan dan partisipasi PKN telah dimulai di daerah-daerah di Indonesia. Adapun bentuk pelaksanaannya terbagi menjadi empat bidang, yaitu Pasanggiri (kompetisi), Pagelaran, Pameran, dan Sawalawicara (konferensi),” ucap Sri Hartini.

Sesuai proses, pihaknya sudah melakukan dengan berbagai model di sejumlah kabupaten/kota meskipun tidak untuk semua komponen (kompetisi/pagelaran/konferensi) bisa dilakukan, tetapi paling tidak ada gaung dari permainan tradisional.

Berbagai acara itu dimaksudkan juga untuk meningkatkan animo masyarakat menjelang pelaksanaan Pekan Kebudayaan Nasional.

Pawai "Digdaya Indonesia"

Nantinya desain dan tata ruang pada Pekan Kebudayaan Nasional pun tak lepas dari khazanah budaya Indonesia. Melalui konsep yang dibuat, nantinya visual ruang luar area Istora Senayan didesain dengan mengambil simbol-simbol budaya Indonesia.

Sementara itu, Deny Malik, seniman yang berpartisipasi dalam pawai, akan melakukan koreografi bertajuk "Pawai Digdaya Indonesia". Tajuk ini hendak menunjukkan khazanah budaya yang dimiliki Indonesia sebagai negara digdaya kebudayaan.

"Pawai kali ini akan dilaksanakan pada malam hari. Ini merupakan tantangan sendiri, misalnya dari segi kostum. Belum lagi alat musik yang digunakan nanti adalah alat musik tradisional. Ini menarik untuk mengoreografi paduan alat musik tradisional, mulai dari talempong hingga suling bambu," tutur Deny.

Dia mengungkapkan pawai nanti akan banyak menarik seniman untuk berperan serta. Dia pun mengaku sudah banyak seniman yang menghubungi untuk turut berpartisipasi dan tentunya akan ditindaklanjuti.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X