Andy F Noya: Menyalakan Kembali "Lentera Jiwa" Anak-Anak Kita...

Kompas.com - 22/09/2019, 21:32 WIB
Andy F Noya saat hadir di tengah-tengah siswa Global Sevilla School Puri Indah, Jakarta (21/9/2019) mempraktekan langsung konsep mindfulness. DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARAndy F Noya saat hadir di tengah-tengah siswa Global Sevilla School Puri Indah, Jakarta (21/9/2019) mempraktekan langsung konsep mindfulness.

Mindfulness practices, tambahnya, perlu diajarkan kepada anak secara terstruktur dan reguler karena manfaatnya sangat besar untuk melindungi dari "polusi pikiran". 

Penerapan mindfulness di Global Sevilla School telah dimulai sejak awal tahun 2016, dan mempergunakan mindfulness sebagai dasar pembentukan karakter siswa. "Sesungguhnya yang dilakukan adalah mind management. Siswa akan lebih meningkat pengendalian dirinya. Selain itu latihan tersebut juga akan memperbaiki kinerja akademis para siswa, dan juga mengajarkan kepedulian terhadap sesama serta menghargai lingkungannya," jelas Michael.

Menyalakan "lentera jiwa" siswa

Tidak hanya mindful listening, Andy Noya juga berkesempatan menyaksikan langsung ragam kegiatan mindfulness yang dilakukan siswa seperti mindful movement dan mindful seeing lewat ragam permainan.

Baca juga: Kuliah Luar Negeri dan Tantangan Membangun Jembatan Rasa Aman Orangtua-Anak

"Saya senang berada di antara anak-anak, pelajar dan mahasiswa untuk mengingatkan kembali; apa yang akan kamu lakukan di kehidupannya di masa datang. Banyak anak tidak tahu atau belum tahu apa yang sesungguhnya mereka inginkan dalam hidupnya," ujar Andy.

Selain kepada siswa, Andy juga menyampaikan pesan kepada para guru dan orangtua.

"Kepada guru-guru saya mengingatkan, segera temukan apa yang menjadi passion, apa yang menjadi 'lentera jiwa' murid-murid anda. Karena banyak anak-anak yang sejak dini sudah ketahuan memiliki sesuatu yang sangat istimiwa. Namun orangtua abai sehingga orangtua mengarahkan ke sesuatu hal yang justru membuat anak tidak bahagia," ujar Andy.

Andy memberikan gambaran, kalau anak suka musik mungkin orangtua beranggapan musik tidak dapat menopang hidup secara ekonomi sehingga diarahkan menjadi lawyer, misalnya sehingga anak tidak menjadi bahagia. 

"Kalau anak diarahkan sesuai dengan lentera jiwanya, bakatnya, passion-nya, maka diharapkan anak-anak ini dapat tumbuh berkembang dan yang penting, bahagia," ujarnya,

Andy kembali menegaskan, "Dengan apa yang menjadi lentera hidupnya, anak dapat berprestasi di bidang yang dia sukai. Kalau kita suka pada sesuatu kita akan bekerja lebih dari orang lain." 

Andy menyampaikan, "Kita menciptakan generasi tidak bahagia kalau kita memaksakan. Dengan mindfulness ini saya berharap muncul apa yang menjadi minat anak-anak lewat tulisan atau permainan. Dari situ bukan hanya bakat, tapi juga akan tapi juga menghargai arti kehidupan."

"Dengan mindfulness ada ketenangan, ada kontemplasi, ada yang bisa disampaikan dari hati, bukan karena dipaksa. Dari situ kita harapkan, dapat melahirkan generasi-generasi yang bahagia..," harap Andy.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X