KILAS

Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Kompas.com - 16/10/2019, 07:11 WIB
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani, membuka secara resmi  Pekan Perpustakaan dalam rangka hari jadi Sulawesi Selatan ke-350. 
Turut mendampingi, Bunda Baca Sulawesi Selatan periode 2018-2023, Liestiaty F. Nurdin dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh. Hasan. Di Saat bersamaan, Perpustakaan Nasional juga menggelar di Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca, dengan tema: Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Dok. Humas Perpustakaan NasionalKepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani, membuka secara resmi Pekan Perpustakaan dalam rangka hari jadi Sulawesi Selatan ke-350. Turut mendampingi, Bunda Baca Sulawesi Selatan periode 2018-2023, Liestiaty F. Nurdin dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh. Hasan. Di Saat bersamaan, Perpustakaan Nasional juga menggelar di Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca, dengan tema: Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

KOMPAS.com – Era Revolusi Industri 4.0 saat ini mendorong terjadinya disrupsi di berbagai bidang, termasuk bidang perpustakaan. Di era ini, soft skill menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Pasalnya, revolusi industri 4.0 diprediksi akan menghilangkan 1,5 miliar pekerjaan dan hanya tersisa 2,1 juta pekerjaan di dunia.

“Pekerjaan seperti youtuber, analisis data, dan berbagai pekerjaan yang bersifat kolaboratif akan menjadi pekerjaan yang muncul era digital ini,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando.

Karenanya, paradigma pendidikan di Indonesia harus berubah. Tidak hanya mengutamakan kecerdasan kognitif individu, namun juga kemampuan dalam memecahkan masalah kompleks secara kolaboratif.

Baca juga: “Soft Skill”, Modal yang Tak Bisa Ditawar pada Era Disrupsi Digital

"Industri sekarang bukan (hanya) membutuhkan kecerdasan, tetapi complex problem solving. Bagaimana kemampuan Anda memecahkan masalah yang paling kompleks dan Anda tidak bisa melakukan dengan sendiri," ujarnya.

Adapun soft skill yang harus dimiliki di industri masa depan selain complex problem solving adalah social skill, process skill, system skill. Skill terakhir, yaitu cognitive abilities.

Hal itu Syarif paparankan di sela-sela acara Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca Tahun 2019, di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (14/10/2019).

Menurutnya, profesi pustakawan pun tak luput dari ancaman tersebut. Syarif menjelaskan, ada tiga kemampuan utama yang harus dimiliki pustakawan saat ini, yaitu collection management, knowledge management, dan knowledge transfer.

Baca juga: Perpusnas Rampungkan Seleksi Pustakawan Utama, Ini Tugasnya

"Tanpa kemampuan transfer pengetahuan, pustakawan akan ditinggalkan,” ujar Syarif dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Selasa (15/10/2019).

Oleh karena itu, pustakawan di era revolusi Industri 4.0 harus selalu belajar agar dapat beradaptasi dan relevan dengan kemajuan teknologi.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X