Anak Korban Gawai, Mirip Pecandu Narkoba

Kompas.com - 28/10/2019, 12:32 WIB
Sebuah video yang menunjukkan salah seorang siswa kejang-kejang saat bermain game online di dalam kelasnya, viral di media sosial. Video berdurasi 38 detik itu diunggah oleh akun @keluhkesahojol.id di instagram. Jumat (13/09/2019) MUH. AMRAN AMIRSebuah video yang menunjukkan salah seorang siswa kejang-kejang saat bermain game online di dalam kelasnya, viral di media sosial. Video berdurasi 38 detik itu diunggah oleh akun @keluhkesahojol.id di instagram. Jumat (13/09/2019)

Kini sebagian dari mereka harus di rawat di RSJ Cisarua, Bandung, Jawa Barat.

Tidak hanya di Bandung, ternyata fenomen ini terjadi merata nyaris di seluruh Indonesia. Dari pulau Sumatera hingga Kawasan Timur Indonesia.

Baca juga: Mengobati Korban Kecanduan Gawai

Hanya yang tercatat, yang terbanyak pertama di Jawa Barat, disusul Jawa Tengah yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Surakarta, yang rata-rata setiap hari terdapat 1 hingga 2 pasien anak datang, akibat gangguan jiwa karena gawai.

Ini aturan hingga batasannya

Ada hal penting yang harus dilakukan orangtua agar tak terjadi hal serupa. Tak boleh anak hingga remaja di bawah usia 18 tahun menjadi pecandu gawai.

Bahkan orang dewasa sekalipun. Meski orang dewasa normal, cenderung bisa menguasai dan mengambil keputusan setelah mereka terpapar gawai berlebihan.

Otak bagian depan yang bertugas menganalisis dan mengambil keputusan cenderung bisa mengatur dan akhirnya mendominasi bagi sosok dewasa.

"Tapi tidak dengan anak dan remaja. Otak bagian depan mereka belum terbentuk sempurna, sehingga saat mendapat kesenangan, mereka akan terus menagih dan menagihnya," ungkap dokter Elly Marliyani, Direktur Utama RS Jiwa Provinsi Jawa Barat.

Batasi penggunaan gawai pada anak, dengan dua cara: pertama, jangan pernah memberikan gawai pada anak, melainkan meminjamkannya.

Sehingga sejak awal ia sadar bahwa gawai tersebut bukanlah miliknya, dan bisa ditarik sewaktu-waktu atas kontrol orangtua.

Kedua, batasi penggunaan gawai pada anak, maksimal hanya boleh 2 jam perhari. Tidak boleh lebih!

Dan terpentig dari semua itu, apa yang dilakukan dan diakses oleh sang anak, orangtua tak boleh lengah.

Sesungguhnya segala sesuatu itu berdiri atas porsinya. Itulah hakikat keadilan pada kehidupan dunia.Saya Aiman Witjaksono,

Salam!

 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X