Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/11/2019, 20:00 WIB

Kita, cenderung membiarkan atau mengabaikan, tumbuh dengan peran sebagai penonton.

Pengabaian di ruang pendidikan

Bagaimana jika ‘Model Wisel’ ini kita bawa masuk ke unit pendidikan?

Sebutlah dia Mawar. Tentu saja nama samaran. Perilakunya baik-baik saja seperti yang lain. Nilainya cukup bagus. Tidak ada yang aneh. Menjelang semester, dikabarkan akan menikah karena hamil. Harus berhenti sekolah karena penyebab aib bagi keluarganya.

Setelah ditelusuri, didapatkan beberapa data: bercita-cita menjadi pramugari. Pulang sekolah bekerja di salon kecantikan. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu. Ibunya menikah lagi. Saat ini, tinggal bersama neneknya. Naas, hubungan kurang harmonis dengan tantenya.

Rafi. Juga samaran. Laki-laki. Setelah direkapitulasi, kehadirannya kurang dari 70 persen. Nilai tidak tuntas sampai batas waktu yang ditentukan. Tidak bersyarat naik tingkatan berikutnya. Memutuskan berhenti sekolah. Berikut data-datanya: kedua orang tua berpisah. Ayahnya pelaut.

Tiga tahun terakhir belum pulang. Ibunya menikah lagi, disusul ayahnya. Rafi berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga berikutnya.

Sesungguhnya, ini tentang saya dan mungkin Anda. Mawar dan Rafi ‘terbunuh’ karena saya abai sebagai wali kelasnya, sebagai gurunya.

Jika saja jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi, saya menyediakan waktu yang cukup untuk mengenal dan melakukan percakapan bermakna dengan dengan mereka, maka tersedia dua pilihan: mungkin terjadi atau mungkin juga tidak. Percayalah, pengalaman ini sungguh menyesakkan.

Bukan hanya Mawar. Masih ada Bunga, Dahlia, Amir, Azis dan sejumlah nama lain yang kadang ‘terbunuh’ atau ‘membunuh’ karena keberadaanya yang diabaikan kelompok ketiga. Memperlakukan mereka objek kelas yang hanya datang dan duduk, taat dan patuh pada aturan.

Mimpi kita memperlakukan mereka sebagai botol kosong yang terus menerus diisi pengetahuan. Belakang hari, saya paham itu adalah bagian dari pengabaian terbesar terhadap keutamaannya sebagai manusia potensi. Memaksa anak belajar dengan cara yang sama dan berulang-ulang setiap semester.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+