Kompas.com - 25/11/2019, 17:30 WIB
Tangkapan layar Youtube pidato Mendikbud Nadiem Makarim menyambut Hari Guru Nasional 2019. DOK. YOUTUBE KEMENDIKBUDTangkapan layar Youtube pidato Mendikbud Nadiem Makarim menyambut Hari Guru Nasional 2019.

1. Menetapkan tujuan belajar sesuai kebutuhan, minat dan aspirasinya, bukan karena didikte pihak lain.

2. Menentukan prioritas, cara dan ritme belajar, termasuk beradaptasi dengan cara baru yang lebih efektif.

 

3. Melakukan evaluasi diri untuk menentukan mana tujuan dan cara belajar yang sudah efektif dan mana yang perlu diperbaiki.

Merdeka bukan berarti bebas (freedom), tapi kemerdekaan (independence) mengarahkan tujuan, cara dan penilaian belajar. Sebagaimana negara merdeka, guru merdeka belajar berarti menentukan dan mengarahkan nasib dan masa depannya, dalam suatu konteks kehidupan bersama.

Merdeka belajar di ruang kelas

Merdeka belajar di ruang kelas diawali dari diri guru yang merdeka belajar, sadar dan memprioritaskan esensi tujuan pendidikan, fleksibel dalam menentukan strategi belajar dan menjadikan respon murid sebagai bahan untuk berefleksi.

Guru yang merdeka belajar akan menjadi penggerak kelas merdeka belajar. Merdeka belajar dari lingkup diri disebarkan menjadi lingkup kelas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Murid dilibatkan dalam mengelola kelas, seperti penggunaan kesepakatan kelas, komunikasi positif dan menghindari sogokan dan hukuman untuk memotivasi murid.

Pada proses pengajaran, guru merdeka belajar melibatkan murid dalam menentukan tujuan belajar. Guru menjadi penghubung antara tujuan belajar pada kurikulum dengan kebutuhan murid.

Pemahaman terhadap kebutuhan dan potensi murid dijadikan pertimbangan bagi guru untuk menyusun pilihan cara belajar di kelas. Guru merdeka belajar melibatkan murid dalam merancang penilaian terhadap proses dan hasil belajar.

Pada akhir pelajaran, guru merdeka belajar meminta masukan dari murid untuk melakukan perbaikan.

Ketika pertama mensosialisasikan merdeka belajar, baik melalui media sosial, diskusi grup daring, maupun seri pelatihan merdeka belajar, kami mendapatkan banyak respon terkejut dari kebanyakan guru yang bisa dikategorikan menjadi 2 kategori: otonomi dan orientasi pada anak.

Ketidakpercayaan pada guru dan murid

Kategori otonomi menggambarkan kekhawatiran dan keraguan guru mempunyai otonomi dalam mengajar.

 

 

Isinya kekhawatiran guru terhadap tuntutan kepala sekolah dan pengawas, meski mereka jarang berkunjung ke kelas. Keraguan apakah guru mempunyai kewenangan dalam merancang proses belajar di kelas.

Kategori orientasi pada anak menggambarkan ketidakpercayaan guru dalam melibatkan murid.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.