Kompas.com - 04/01/2020, 08:41 WIB
Anak-anak bermain di genangan air depan selter transJakarta Bidara Cina, Jakarta Timur, Minggu (19/1/2014). KOMPAS.com/FITRI PRAWITASARIAnak-anak bermain di genangan air depan selter transJakarta Bidara Cina, Jakarta Timur, Minggu (19/1/2014).

KOMPAS.com - Di kala banjir menimbulkan duka, genangan air akibat curah hujan tinggi itu justru menjadi taman bermain seru bagi sebagian anak.

Seperti anak-anak di Kampung Pulo misalnya, tak hanya anak rumahnya terdampak banjir, anak-anak dari wilayah sekitar juga turut menyaksikan, bahkan ikut berenang di keruhnya air banjir yang mengenangi wilayah tersebut sejak Rabu (1/6/2020).

Asyiknya bermain di air banjir bisa jadi tak hanya dilakukan anak-anak di Kampung Pulo. Walau anak-anak penuh kegembiraan dengan fenomena banjir, baiknya orangtua mulai memberi pemahaman pada anak bahwa banjir adalah bencana, di samping memahami potensi penyakit timbul bila anak terpapar air banjir.

Dokter spesialis anak Vicka Farah Diba mengatakan, penyakit paling umum terjadi bila anak terpapar air banjir ialah leptospirosis dan diare.

Anak-anak enggak boleh main banjir. Hindari bermain di genangan air saat terjadi banjir, terutama bila sedang ada luka,” tutur Vicka saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (3/1/2020).

Baca juga: Nadiem Imbau Sekolah Libur bila Keadaan Daerah Masih Darurat Bencana

Ia melanjutkan, bila air banjir sampai tertelan saat anak berenang di dalamnya, maka anak sangat mungkin untuk terkena diare. Jangankan tertelan, bila anak tak membersihkan diri dari paparan air banjir lalu anak makan dengan tangan, tetap memiliki potensi terkena diare.

Bila anak juga memiliki luka terbuka pada kulit, dapat membuat bakteri menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi leptospirosis yang berkaitan dengan tikus. 

Berikut penjelasan dan pencegahan penyakit yang paling sering timbul saat anak bermain air banjir.

1. Leptospirosis atau "kencing tikus"

Leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan oleh tikus melalui kotoran dan air kencingnya. Saat banjir, kotoran dan kencing tikus yang berada di saluran pembuangan (selokan) akan ikut tercampur dengan air banjir.

Bila kondisi anak sedang tidak fit terlebih memiliki luka terbuka pada kulit, maka air banjir yang terpapar bakteri leptospira dari kotoran dan kencing tikus dapat lebih mudah menginfeksi dan membuat anak sakit.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X