Kuliah di UK dan Marah karena Cuma Dapat 70 di Penilaian Esai

Kompas.com - 04/01/2020, 09:19 WIB
Kampus Loughborough University di London, Inggris. Loughborough UniversityKampus Loughborough University di London, Inggris.

Sayangnya, kuliah di Inggris hampir tidak mungkin menghindar dari esai, apalagi jika bidang yang diambil adalah seni, sastra, ilmu sosial, dan lintas disiplin.

Perkecualian mungkin untuk jurusan yang benar-benar engineering. Contoh, ilmu komputer murni. Seorang teman yang mengambil jurusan itu hanya punya ujian, tidak punya esai.

Rumus dasar nilai bagus

Lalu, bagaimana dapat nilai esai bagus?

Rumus dasar untuk nilai esai yang bagus adalah koherensi, tepat sasaran, argumentasi kuat dengan dukungan referensi, dan orisinalitas.

Kriteria ini banyak dipahami mahasiswa, tapi nyatanya gampang-gampang susah mengaplikasikannya. Wartawan yang dalam kesehariannya menulis, misalnya, bisa mendapat nilai rendah dan komentar, "Esaimu terlalu jurnalistik."

Alih-alih langsung mengungkapkan pendapat dan referensi, mahasiswa dituntut menguraikan duduk permasalahan lebih dahulu beserta bukti-bukti pendukungnya.

Ini bisa berupa berita dari media tepercaya atau publikasi ilmiah. Dosen Indonesia di universitas saya berkata, tujuannya adalah menguji sejauh mana mahasiswa memahami perdebatan yang ada, memastikan tidak hanya mengekor pendapat yang dinilai benar.

Orisinalitas juga penting. Ini bisa berupa pendapat atau contoh.

Mahasiswa asing punya keuntungan di sini. Misalnya, jika ingin bicara digital dan pembangunan ekonomi, alih-alih memberi contoh soal Apple yang sudah umum, mahasiswa Indonesia bisa memberi contoh soal Gojek.

Dengan demikian, si dosen tahu bahwa mahasiswa memiliki pemahaman dan mampu memberi konteks.

Argumentasi punya peranan besar. Mahasiswa tidak bisa hanya menggabungkan dan mencocokkan teori yang ada tapi dituntut memberikan argumen orisinil berdasarkan referensinya.

Di sini, membaca sebanyak mungkin referensi dengan strategi yang tepat jadi penting. Ini yang membuat menulis esai lebih menantang dari mengerjakan ujian yang bisa jadi hanya mengandalkan kemampuan menghafal.

Hal terakhir yang tak kalah penting adalah komunikasi dalam bahasa Inggris. Bukan hanya perlu sempurna secara gramatikal, tetapi juga tone yang tepat.

Penulisan untuk kalangan akademik punya tone berbeda dengan tulisan populer di media. Bagi yang belum terbiasa menulis dengan bahasa Inggris, ini adalah tantangan tersendiri.

Kerap kali mahasiswa dari negara yang bahasa utamanya bukan Inggris menganggap, mahasiswa lokal sudah otomatis unggul karena bahasa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X