Sekolah Berkebutuhan Khusus, Ini 6 Jenis SLB yang Harus Kamu Ketahui

Kompas.com - 20/01/2020, 22:10 WIB
Ajar Agus Budianto (belakang kedua dari kanan), guru SLB A Pembina Jakarta bersama murid dan guru SLB A Pembina lainnya saat menghadiri upacara Hari Guru Nasional 2019 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (25/11/2019). Budi telah menjadi guru SLB khususnya untuk penyandang tuna netra sejak tahun 1998. KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJOAjar Agus Budianto (belakang kedua dari kanan), guru SLB A Pembina Jakarta bersama murid dan guru SLB A Pembina lainnya saat menghadiri upacara Hari Guru Nasional 2019 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (25/11/2019). Budi telah menjadi guru SLB khususnya untuk penyandang tuna netra sejak tahun 1998.

KOMPAS.com - Pendidikan inklusif di Indonesia adalah bentuk perwujudan hak memperoleh pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus agar mendapatkan kehidupan yang layak.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai 1,6 juta.

Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, 1.6 juta anak berkebutuhan khusus baru 18 persen yang mendapatkan layanan pendidikan inklusi.

Baca juga: 6 Cara Berinteraksi dengan Disabilitas Tunanetra agar Tak Salah Paham

Dari 18 persen tersebut, terdapat 115.000 anak bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) dan 299.000 lainnya bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi.

Nah, jika mereka sekolah di SLB, ada berapa jenis SLB di Indonesia? Berikut kita kenali jenis-jenis SLB seperti dikutip dari Rencanamu.id.

1. SLB-A

SLB-A merupakan SLB yang khusus untuk penyandang tuna netra. Tuna netra merupakan kondisi seseorang mengalami hambatan dan keterbatasan dalam indera penglihatannya.

Para guru di SLB-A mengajar murid-murid dengan metode yang dipahami oleh tuna netra. Guru mengajar dengan huruf dan tulisan braille, model benda, huruf timbul, dan rekaman suara.

2. SLB-B

Berbeda dengan SLB-A, SLB-B khusus ditujukan untuk penyandang tuna rungu. Tuna netra merupakan kondisi seseorang mengalami hambatan dan keterbatasan dalam indera pendengarannya.

Para murid penyandang tuna rungu akan diajarkan tentang cara berkomunikasi dengan bahasa isyarat sekaligus membaca gerakan bibir lawan bicaranya. Murid-murid penyandang tuna rungu juga diajarkan menggunakan alat bantu pendengaran.

3. SLB-C

SLB-C khusus ditujukan untuk penyandang tuna grahita. Tuna grahita merupakan kondisi seseorang anak mengalami keterbelakangan mental atau juga disebut retardasi mental.

Penyandang tuna grahita memiliki IQ di bawah rata-rata sehingga tingkat intelegensianya lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Para pengajar di SLB-C membutuhkan ekstra kesabaran untuk mengajari murid-murid SLB-C.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X